Industri Sepatu Diprediksi Tumbuh 5 Persen, Sneaker Mendominasi

Firman menambahkan model yang akan mendominasi produksi sepatu pada semester II/2019 adalah jenis sneaker. Hal tersebut, ujarnya, disebabkan oleh masuknya tahun ajaran baru.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 21 Juni 2019  |  08:51 WIB
Industri Sepatu Diprediksi Tumbuh 5 Persen, Sneaker Mendominasi
Pengunjung memperhatikan koleksi sepatu di sela-sela konferensi pers BCA Jakarta Sneaker Day 2019, di Jakarta, Jumat (18/1/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) memproyeksikan volume produksi sepatu nasional akan tumbuh di bawah 5 persen. Di sisi lain, Badan usat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor alas kaki pada kuartal I/2019 naik 8,66 persen.

Direktur Eksekutif Asprisindo Firman Bakrie mengatakan hal tersebut sejalan dengan survei yang dilakukan asosiasi kepada para anggota mengenai produksi pada kuartal I/2019. Para anggota, ujarnya, menyatakan produksi pada kuartal I/2019 meningkat.

“Untuk domestik memang ada kenaikan. [Pendorongnya adalah] tren positif dari [situasi] politik yang sudah berlangsung secara aman. Kemudian kenaikan gaji pegawai terkait dengan tingkat konsumsi. Itu beberapa indikasi positif untuk konsumsi di dalam negeri,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (20/6/2019).

Firman menambahkan model yang akan mendominasi produksi sepatu pada semester II/2019 adalah jenis sneaker. Hal tersebut, ujarnya, disebabkan oleh masuknya tahun ajaran baru.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat  sneaker merupakan salah satu jenis yang banyak diproduksi di dalam negeri. Bagi pasar ekspor, sepatu sneaker berkontribusi sebesar 42 persen dari total volume sepatu yang diekspor.

Sepatu Kulit

Sementara itu, sepatu kulit dan sepatu berbahan karet dan plastik masing-masing menopang 39 persen dan 18 persen dari total volume ekspor.

Firma menyatakan sebagian besar produsen sepatu kulit lokal masih bergantung kepada kulit jadi impor. Firman mengutarakan hal tersebut disebabkan oleh kualitas produk industri penyamakan kulit domestik yang tidak stabil dan kuantitasnya yang rendah.

“Pastinya juga harga. Dengan harga yang sama bisa dapat bahan baku [impor] yang lebih bagus,” paparnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Muhdori menyampaikan volume produksi industri penyamakan kulit lokal masih belum dapat memenuhi konsumsi kulit jadi nasional. Namun demikian, lanjutnya, kualitas produksi kulit jadi di dalam negeri sudah berstandar internasional.

Muhdori memaparkan salah satu penyebab minimnya pasokan dalam negeri tersebut disebabkan oleh ketersediaan bahan baku yang menurun beberapa tahun terakhir. Muhdori memaparkan populasi sapi Jawa dan domba—yang menjadi bahan baku utama industri penyamakan kulit—mulai mengalami penurunan populasi.

Kemenperin mencatat produksi kulit nasional pada tahun lalu hanya mencapai 55 juta square feet (SQFT), sedangkan 5,9 juta SQFT dialokasikan untuk pasar global. Sementara itu, konsumsi kulit jadi nasional mencapai 115,84 juta SQFT. Dengan kata lain industri hilir mengimpor 66,74 juta SQFT kulit jadi pada tahun lalu.

Adapun, kapasitas produksi industri kulit jadi mencapai 140 juta SQFT pada tahun lalu. Namun, tingkat utilisasi industri penyamakan kulit hanya berada di level 25 persen atau memproduksi 35 juta SQFT kulit jadi. Meskipun demikian, Muhdori memproyeksi performa industri penyamakan kulit masih bagus pada tahun ini.

“Kalau dilihat dari skala makro bagus. Ulit dalam negeri yang kualitasnya bagus dipakai dalam rangka ekspor. [Sementara itu, produsen] yang tidak kebagian kulit dalam negeri yang bagus ya impor. YYang terpenting ada nilai tambah ketika jadi produk jadi,” tuturnya.

Muhdori mengatakan pihaknya menargetkan volume produksi industri penyamakan kulit hingga akhir tahun ini dapat tumbuh 3 persen—4 persen. Di sisi lain, sambungnya, volume produksi industri alas kaku dapat mencapai 5,6 persen pada akhir tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sepatu, industri sepatu

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top