Hadapi Perubahan Konsumen, Industri Olahan Daging Siapkan Strategi

Industri olahan daging diproyeksi akan menghadapi tren perubahan preferensi konsumen dalam beberapa tahun ke depan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 20 Juni 2019  |  11:15 WIB
Hadapi Perubahan Konsumen, Industri Olahan Daging Siapkan Strategi
Ilustrasi - daging beku - Reuters/Maxim Zmeyev

Bisnis.com, JAKARTA – Industri olahan daging diproyeksi akan menghadapi tren perubahan preferensi konsumen dalam beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, sebagian pelaku industri mulai mempersiapkan penerbitan varian produk. Selain itu, eskalasi perang harga pada produk daging olahan terus berlansung.

Direktur Utama PT Sentra Food Indonesia Tbk. Agustus Sani Nugroho mengatakan, perubahan tren preferensi konsumer dari makanan cepat saji ke siap saji belum berpengaruh kepada perseroan dalam 1—2 tahun ke depan.

Namun demikian, Nugroho memproyeksi perubahan preferensi tersebut akan berdampak pada industri olahan daging pada 2—3 tahun ke depan. “Mungkin 2—3 tahun ke depan ketika budaya makan di Indonesia berubah secara signifikan. Dari sisi strategi pada 2019, kami sudah mulai memikirkan itu,” ujarnya, Rabu (19/6/2019).

Nugroho menambahkan, perseroan akan menerbitkan beberapa produk baru pada semester II/2019 dalam menyesuaikan dengan perubahan tren preferensi konsumen tersebut. Menurutnya, produk tersebut masih berupa olahan daging, tetapi langsung bisa dimakan.

Produk perseroan, lanjutnya, masih akan didominasi oleh produk makanan setengah jadi seperti sosis dan daging asap. Pasalnya, menurut Nugroho, permintaan pada sektor makanan setengah jadi masih tinggi.

Di sisi lain, Nugroho memproyeksi harga bahan baku pada semester I/2019 yang terbilang cukup stabil akna berlanjut hingga akhir tahun. Alhasil, lanjutnya, fluktuasi harga bahan baku pada tahun ini tidak akan berpengaruh besar pada neraca perseroan.

Sementara itu, Nugroho menyampaikan secara komposisi perseroan akan menaikkan penjualan ritel menjadi 50% dari total penjualan. Adapun, pada tahun lalu penjualan ritel berkontribusi sebesar 35%--38% dari total penjualan perseroan. 

Hal tersebut, ujarnya, disebabkan oleh penjualan yang menurun pada kuartal I/2019 akibat dari berbagai bencana alam seperti banjir, gempa bumi, dan lainnya. Menurutnya, penjualan melalui peritel tidak berdampak dari hal-hal tersebut.

Nugroho mengutarakan penjualan kepada hotel, restoran, dan kafe (horeka) tumbuh sebesar 50% pada kuartal I/2019 secara tahunan meskipun industri horeka mengalami beberapa tantangan. Menurutnya, kondisi politik yang kurang stabil membuat para investor menahan ekspansi atau pembuatan restoran dan hotel pada kuartal I/2019. 

Sementara itu, Nugroho menilai maraknya hotel dengan segmen mengah ke bawah membuat perseroan harus menyesuaikan produk perseroan kepada hotel segmen atas yang kini sepi pengunjung. 

Terkait dengan permintaan masyarakat terhadap produk daging olahan, Agustus menyatakan saat ini dirasakan cukup baik. Kegiatan pemilihan umum pada April lalu tidak memberikan pengaruh perlambatan, justru permintaan secara umum naik menjelang Lebaran. 

Menurutnya, minat masyarakat untuk daging olahan cukup merata di semua jenis produk daging olahan. "Secara umum, permintaan daging olahan jenis sosis dan kebab masih cukup dominan," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur, daging, konsumen

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top