Kepercayaan Bisnis Asia Terjun ke Level Terendah Satu Dekade

Tingkat kepercayaan bisnis di antara perusahaan-perusahaan Asia turun ke level terendah sejak krisis keuangan 2008-09, di tengah perang perdagangan yang memanas antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 19 Juni 2019  |  17:25 WIB
Kepercayaan Bisnis Asia Terjun ke Level Terendah Satu Dekade
Suasana di Pelabuhan Lianyungang, Provinsi Jiangsu, China, 8 September 2018. - REUTERS/Stringer

Bisnis.com, JAKARTA – Tingkat kepercayaan bisnis di antara perusahaan-perusahaan Asia turun ke level terendah sejak krisis keuangan 2008-09, di tengah perang perdagangan yang memanas antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Indeks Sentimen Bisnis Asia dalam survei Thomson Reuters/INSEAD, yang melacak prospek perusahaan-perusahaan global, turun ke level 53 pada kuartal yang berakhir Juni 2019.

Padahal, pada dua kuartal sebelumnya, indeks ini masih berada di level 63. Survei terbaru itu dilakukan pada 31 Mei hingga 14 Juni 2019.

Meski angka di atas 50 masih mencerminkan optimisme responden melebihi jumlah yang pesimistis, kekhawatiran tentang ancaman perang dagang yang berkepanjangan telah mendorong indeks ini ke level terendahnya sejak kuartal Juni 2009, edisi pertama survei ini dirilis.

Antonio Fatas, seorang profesor ekonomi di sekolah bisnis global INSEAD, mencatat adanya ketidakpastian tentang perang perdagangan dan kekhawatiran banyak orang tentang masa depan ketika indeks mulai mengalami penurunan tajam tiga kuartal lalu.

“Setelah empat kuartal membukukan angka yang rendah, sekarang kami rasa ini bukan hanya ketidakpastian. Ini adalah perlambatan pertumbuhan yang sebenarnya. Kami melihat aktivitas menurun bukan hanya perkiraan bahwa aktivitas akan menurun,” jelas Fatas, seperti dilansir dari Reuters.

Untuk kuartal keempat berturut-turut, responden survei menyebutkan perang perdagangan global sebagai risiko utama bagi bisnis, diikuti oleh Brexit dan perlambatan ekonomi China.

Survei ini dilakukan terhadap 95 perusahaan di 11 negara-negara Asia Pasifik yang berkontribusi sekitar sepertiga dari produk domestik bruto (PDB) global dan merupakan rumah bagi 45 persen dari populasi dunia.

Indeks tersebut bertahan di atas titik netral 50 yang mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan di kawasan itu tidak memperkirakan resesi global akan segera terjadi.

Kendati demikian, level terendah dalam satu dekade menunjukkan meningkatnya kehati-hatian seiring dengan eskalasi ketegangan perdagangan AS-China.

Hubungan perdagangan AS dan China telah buntu sejak tahun lalu. Kedua negara saling memberlakukan tarif impor di tengah upaya Washington memaksa Beijing untuk melakukan perubahan pada kebijakan bisnisnya.

Langkah AS menempatkan Huawei, raksasa teknologi China, dalam daftar hitam ekspor yang melarang perusahaan-perusahaan AS untuk melakukan bisnis dengannya tanpa persetujuan pemerintah AS semakin meningkatkan ketegangan.

Namun Presiden AS Donald Trump tetap mengatakan bahwa kesepakatan antara kedua negara pada akhirnya akan tercapai. Di sisi lain, sebagian analis berpendapat resolusi untuk perang perdagangan AS-China tidak akan tercapai tahun ini.

“Ketegangan perdagangan mengganggu jalur pasokan, terutama untuk smartphone kelas atas. Banyak produsen ingin memindahkan produksinya dari China ke negara-negara seperti Vietnam, Taiwan dan Bangladesh,” ujar Manishi Raychaudhuri, equity strategist BNP Paribas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup