Perang Dagang Bisa Pecahkan Gelembung Harga Properti Hong Kong

Sentimen negatif tersebut juga diperkirakan akan terus terjadi hingga beberapa kuartal ke depan. Knight Frank LLP menyebutkan bahwa volatilitas pasar saham akan menahan kenaikan harga properti hunian, bahkan hingga turun sampai 5 persen dalam paruh kedua tahun ini.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 13 Juni 2019  |  08:36 WIB
Perang Dagang Bisa Pecahkan Gelembung Harga Properti Hong Kong
Wajah Hong Kong dari ketinggian - Reuters/Bobby Yip

Bisnis.com, JAKARTA - Harga properti residensial di Hong Kong yang menggelembung hingga menyentuh rekor saat ini diprediksi sejumlah ekonom, segera pecah.

Nilai properti residensial di Hong Kong menyentuh titik tertingginya pada pekan lalu setelah mengalami kenaikan tanpa henti pada tiga bulan sebelumnya. Berdasarkan data Centaline, harganya tercatat naik 8,6 persen sejak awal tahun.

Namun, Hong Kong saat ini menjadi salah satu kota yang terdampak dari perang dagang antara China dengan Amerika Serikat (AS) yang membuat pasar sahamnya terpukul. Sejumlah analis menyebutkan bahwa dengan peristiwa itu sekarang harga rumah di sana sudah mulai mengalami penurunan.

“Sentimen yang ada membawa kekhawatiran lebih besar untuk beberapa bulan ke depan, atau bahkan lebih lama lagi. Apabila pasar saham terus tertekan, terutama jika ketegangan antara China dengan AS tidak membaik, harga rumah bisa anjlok,” kata Tommy Wu di Oxford Economics Ltd., Hong Kong dikutip dari Bloomberg, Selasa (11/6/2019).

Adapun, para pemain properti juga yakin bahwa kenaikan ketegangan perang dagang dan koreksi pada pasar saham bisa menahan tingkat pembelian, yang menghasilkan jumlah pembelian 40% lebih rendah pada sepanjang Juni dibandingkan dengan Mei.

Sentimen negatif tersebut juga diperkirakan akan terus terjadi hingga beberapa kuartal ke depan. Knight Frank LLP menyebutkan bahwa volatilitas pasar saham akan menahan kenaikan harga properti hunian, bahkan hingga turun sampai 5 persen dalam paruh kedua tahun ini.

Ekonom sekaligus profesor di Harvard Carmen Reinhart juga menyebutkan bahwa pasar properti di Hong Kong kemungkinan menunjukkan akan adanya penggelembungan.

“Sebenarnya masih ada ruang bagi harga untuk bisa naik, melihat permintaan yang tetap tinggi dan tingkat suku bunga pinjaman yang masih rendah. Namun, menurut saya, kenaikan harga sepanjang 2019 ini akan tertahan karena perlambatan pertumbuhan ekonomi, pekerjaan, dan meningkatkan ketegangan perang dagang AS dan China,” kata Ines Lam, Ekonom CLSA.

Adapun, Alicia Garcia Herrero, Kepala Ekonom Natixis SA Asia-Pacific, mengatakam bahwa salah satu yang bisa menjadi solusi untuk harga rumah adalah penyesuaian pasok.

“Pemerintah Hong Kong bisa, tapi sepertinya tidak mau, untuk memecahkan masalah itu. Namun, bagaimanapun, jangan khawatir, karena pasar akan melakukannya untuk mereka karena harga pasti akan jatuh karena ekonomi melambat dan China memperketat arus keluar."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
properti china, pasar properti asia, perang dagang AS vs China

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top