AS-China Buntu, Bank Sentral Global Siap Ambil Tindakan

Ketika bank-bank sentral semakin mengkhawatirkan ekonomi dunia dan berkeinginan untuk meningkatkan stimulus, para menteri keuangan dari negara-negara G20 mencatat sedikit kemajuan dalam meredakan ancaman utama memanasnya tensi perdagangan.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 10 Juni 2019  |  07:31 WIB
AS-China Buntu, Bank Sentral Global Siap Ambil Tindakan
Pertemuan G20 Fukuoka - REUTERS/Kim Kyung/Hoon

Bisnis.com, JAKARTA – Ketika bank-bank sentral semakin mengkhawatirkan ekonomi dunia dan berkeinginan untuk meningkatkan stimulus, para menteri keuangan dari negara-negara G20 mencatat sedikit kemajuan dalam meredakan ancaman utama memanasnya tensi perdagangan.

Pertemuan di kota pelabuhan Fukuoka, Jepang, pada Sabtu (8/6/2019) dibuka dengan kabar baik setelah Presiden AS Donald Trump menangguhkan rencananya untuk mengenakan tarif pada Meksiko.

Namun kebuntuan antara Amerika Serikat dan China tidak juga menunjukkan tanda-tanda mereda. Hal ini diakui para pejabat dalam pernyataan penutup mereka dengan mencatat bahwa ketegangan perdagangan telah "meningkat".

Melalui Twitter, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin menuliskan telah melakukan pembicaraan yang "jujur" dan "konstruktif" tentang isu-isu perdagangan dengan Gubernur People's Bank of China (PBOC) Yi Gang.

Sementara itu, Menteri Keuangan China Liu Kun menggambarkan proteksionisme sebagai "tantangan krusial" dan menyerukan semua pihak untuk mempertahankan sistem multilateral berbasis aturan.

Dengan minimnya narasi perdagangan yang signifikan, pasar harus menunggu beberapa pekan ke depan untuk memperoleh peluang sebuah terobosan. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping diharapkan akan bertemu di KTT G20 pada 28-29 Juni 2019 di Osaka.

“Kita harus mengambil pendekatan multilateral. Perdagangan tidak berjalan dengan baik dengan pendekatan bilateral,” ujar Menteri Keuangan Jepang Taro Aso kepada awak media, seperti dikutip dari Bloomberg.

“Jika aktivitas ekonomi memburuk, maka semua alat kebijakan yang memungkinkan harus dimobilisasi,” tambah Aso.

Menteri Keuangan Jerman Olaf Scholz memiliki pandangan serupa.

“Kita semua berharap ketegangan perdagangan akan hilang. Untuk saat ini, pertanyaan yang tertunda tentang negosiasi perdagangan AS-China berdampak nyata pada pembangunan global, dan hilangnya ketidakpastian itu akan memiliki dampak besar pada ekonomi Jerman,” terang Scholz.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Kanada Bill Morneau memiliki alasan untuk optimistis mengenai perdagangan, tetapi dalam hal-hal tertentu.

Penangguhan tarif AS terhadap Meksiko membantu mendorong maju kesepakatan perdagangan AS-Meksiko-Kanada, seperti halnya pembatalan tarif baja dan aluminium AS di Kanada.

“Kanada tetap menentang penggunaan tarif sebagai strategi perdagangan global,” ungkap Morneau.

Morneau juga berharap bahwa pencairan hubungan AS-China akan membantu Kanada memperbaiki hubungannya dengan China. Untuk saat ini, diakuinya, Kanada dan China berada dalam "momen sulit" karena perselisihan soal Huawei, warga Kanada yang dipenjara, dan pembelian kanola yang dibatalkan.

Ketidakpastian tentang penggunaan tarif secara global telah mendorong Barclays Plc untuk melihat bahwa bank sentral AS Federal Reserve akan memangkas suku bunga acuannya pada Juli mendatang.

“Tidak perlu memberlakukan tarif untuk memperlambat ekonomi. Ancaman tarif yang terus-menerus kemungkinan akan cukup bahkan apabila akibat terburuknya terhindari,” menurut riset ekonom Barclays , Michael Gapen, setelah ancaman tarif AS terhadap Meksiko dicabut.

Gubernur The Fed Jerome Powell telah mengisyaratkan kesediaan untuk mengambil tindakan jika ekonomi membutuhkannya, sedangkan Gubernur Bank Sentral Eropa Mario Draghi berjanji untuk mendukung pertumbuhan.

Adapun Gubernur PBOC Yi Gang mengatakan memiliki opsi kebijakan "luar biasa" untuk memicu permintaan. Sementara itu, dalam sepekan terakhir, bank-bank sentral di Australia, India, dan Chili telah menurunkan suku bunganya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
g20, perang dagang AS vs China

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top