Daya Saing Indonesia Terus Membaik, Hal Ini Masih Perlu Perhatian

Hal itu bisa dilihat dari tren sejak 2015, yang menunjukkan peringkat daya saing Indonesia masih berada di atas peringkat ke-40.
Stefanus Arief Setiaji
Stefanus Arief Setiaji - Bisnis.com 03 Juni 2019  |  10:04 WIB

Bisnis.com,  JAKARTA — Daya saing Indonesia menunjukan tren peningkatan yang tecermin dari membaiknya peringkat berdasarkan riset IMD World Competitiveness Yearbook (WCY) 2019.

Indonesia menempati urutan ke-32 dari 63 negara pada 2019 atau meningkat drastis dari posisi 2018 yang berada di posisi ke-42.

Koordinator Riset IMD WCY sekaligus Direktur Konsultasi Lembaga Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Willem Makaliwe mengatakan bahwa peningkatan daya saing yang dialami Indonesia sangat signifikan.

Hal itu bisa dilihat dari tren sejak 2015, yang menunjukkan peringkat daya saing Indonesia masih berada di atas peringkat ke-40.

“Peningkatan peringkat daya saing Indonesia ini adalah yang kedua paling signifikan setelah Arab Saudi yang juga naik sebesar 13 peringkat dari posisi ke-39 ke posisi 26. Sementara itu, perubahan peringkat negara-negara lain tidak terlalu signifikan,” ujar Willem dikutip dari keterangan resminya, Senin (3/6/2019).

Dari sisi kawasan, peringkat daya saing Indonesia di wilayah Asia Pasifik masih
stagnan seperti 2018 di posisi ke-11 dari 14 negara. Sementara itu, di wilayah Asean, daya saing Indonesia masih di bawah Singapura (peringkat 1), Malaysia (peringkat 22), dan Thailand (peringkat 25).

“Hal yang juga menggembirakan adalah, untuk negara-negara dengan populasi di atas 20 juta penduduk, peringkat daya saing Indonesia naik tiga peringkat menjadi peringkat 14 dari 29 negara,” katanya.

Adapun, untuk kinerja ekonomi dalam beberapa tahun ke belakang, perlahan tapi pasti terus mengalami peningkatan kinerja hingga pada 2019 Indonesia mampu berada di posisi 25, naik dua peringkat dari tahun sebelumnya.

Peningkatan yang cukup tajam juga terjadi pada competitive factor government efficiency dari peringkat 36 menjadi peringkat 25.

Sementara itu, pada business efficiency peringkat Indonesia mengalami kenaikan pesat dari posisi 35 ke posisi 20 pada 2019.

Pada aspek competitive factor infrastructure terjadi sedikit peningkatan, Indonesia masih berada di posisi ke-53.

“Hasil ini menunjukan bahwa iklim ekonomi, bisnis dan pemerintahan di Indonesia mendorong perusahaan untuk dapat berkompetisi baik di level domestik maupun internasional. Namun dampak pembangunan infrastruktur di Indonesia masih belum signifikan berpengaruh terhadap mendorong aktivitas ekonomi dan bisnis,” ungkapnya.

Sebelumnya, Director IMD WCY Arturo Bris dalam keterangannya menyebutkan bahwa peringkat daya saing Indonesia naik signifikan 11 peringkat ke posisi 32 dengan skor 73,59.

“IMD WCY telah melakukan penilaian daya saing global sejak 1989 dan menjadi rujukan peringkat daya saing global. Sebanyak 63 negara di evaluasi peringkat daya saingnya berdasarkan overall ranking dari empat faktor daya saing [competitive factors], yaitu kinerja ekonomi [economic performance], efisiensi pemerintahan [government efficiency], efisiensi bisnis [business efficiency], dan Infrastruktur [infrastructure],” jelasnya.

Managing Director LM FEB UI Toto Pranoto menyebutkan terdapat lima tantangan yang masih dihadapi Indonesia pada 2019, yaitu stagnannya pertumbuhan ekonomi dan ekspansi kredit; masih kurangnya penguatan industri dasar; inkonsistensi penerapan kebijakan dan penegakan hukum; perlunya peningkatan kompetensi dan keahlian SDM; dan perubahan struktur pemerintahan pascapelaksaan Pemilu 2019.

“Menjawab tantangan-tangangan ini adalah upaya untuk terus meningkatan daya saing Indonesia,” kata Toto.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indonesia, daya saing, peringkat

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top