Mudik 2019, Eforia Menikmati Tol Trans Jawa Tanpa Putus

Konektivitas jalan tol Trans-Jawa di satu sisi memang akan mempercepat waktu tempuh. Namun, di sisi lain, ketidaksiapan pengemudi dan sarana keselamatan bisa menjadi ranjau yang setiap saat bisa mengundang marabahaya.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 31 Mei 2019  |  07:34 WIB
Mudik 2019, Eforia Menikmati Tol Trans Jawa Tanpa Putus
Kendaraan pemudik memadati pintu gerbang tol Cipali, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, Kamis (30/5/2019). Arus mudik di gerbang tol Cipali pada H-6 terpantau padat. - ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Bisnis.com, JAKARTA--Penduduk di Pulau Jawa kini bisa menunaikan tradisi mudik Lebaran lewat jalan tol yang tersambung dari Jakarta ke Surabaya. Waktu tempuh 9 jam kini bukan sebuah kemustahilan.

Animo masyarakat untuk menggunakan jalan tol Trans-Jawa sebetulnya sudah terasa sejak tahun lalu. Meski belum seluruhnya tersambung, pemudik bisa melintas di jalan tol yang dibuka secara fungsional. Pelan, tetapi pasti, jalur pantura menjadi nostalgia. Sebaliknya, Trans-Jawa menjadi euforia.

Sadar akan animo yang bakal meluap, para pemangku kepentingan, mulai dari regulator dan operator sudah melakukan persiapan sejak dini. Rapat koordinasi terkait dengan penyelenggaran mudik sudah digelar Januari 2019 atau 6 bulan sebelum pelaksanaan.

Kejadian buruk pada saat angkutan Lebaran pada 2016 tentu tak ingin terulang. Masih segar dalam ingatan, kemacetan panjang di pintu tol Brebes telah menimbulkan korban jiwa. Peristiwa itu lantas dikenang sebagai “Tragedi Brexit”.

Sejak 2017—2018, penyelenggaraan mudik mengalami perbaikan, ditopang oleh koordinasi antarlembaga yang makin padu dan perbaikan kualitas infrastruktur jalan maupun tambahan kapasitas dari operasional jalan tol baru.

Peningkatan kecepatan dan penurunan jumlah kecelakaan pada mudik 2018 menjadi dua parameter yang harusnya mencetak rapor lebih bagus tahun ini.

Kementerian Perhubungan melansir, kecepatan perjalanan rata-rata arus mudik pada 2018 mencapai 72 kilometer per jam atau naik 9% dibandingkan dengan 2017. Pada arus balik 2018, kecepatan perjalanan rata-rata naik 22% menjadi 79 kilometer per jam.

Di sisi lain, tren kecelakaan melandai. Kepolisian Republik Indonesia mencatat bahwa jumlah kecelakaan pada saat Operasi Ketupat 2018 (7—15 Juni 2019) turun 17% menjadi 1.154 kasus. Jumlah korban meninggal juga turun 44% menjadi 242 orang.

PT Jasa Marga (Persero) Tbk. menjadi pihak yang paling sibuk dalam melayani para pemudik. Badan usaha milik negara itu memang mempunyai hajat besar karena 60% dari konsesi panjang jalan tol di Trans-Jawa dipegang oleh Jasa Marga dan anak usahanya.

Konektivitas jalan tol Trans-Jawa di satu sisi memang akan mempercepat waktu tempuh. Namun, di sisi lain, ketidaksiapan pengemudi dan sarana keselamatan bisa menjadi ranjau yang setiap saat bisa mengundang marabahaya.

Jasa Marga mencatat, sejumlah ruas menjadi lokasi rawan kecelakaan, antara lain Batang—Semarang dan Ngawi—Kertosono. Jasa Marga telah bersiap menambah sarana keselamatan untuk mencegah kecelakaan.

PT Jasamarga Ngawi Kertosono Kediri (JNK) dan PT Jasamarga Semarang Batang (JSB), misalnya, telah membuat pita penggaduh (rumble stripe) juga akan dipasang di jalur utama tol dengan jarak sekitar 10 kilometer. Pita juga dipasang 1,50 kilometer sebelum tempat istirahat (rest area).

Selain itu, operator juga menambah perambuan, mulai dari batas wilayah, batas kecepatan, menjelang tempat istirahat dan awal masuk jalan tol. JNK dan JSB turut menambah sarana keselamatan jalan berupa lampu peringatan dan pagar pembatas (guard rail).

Direktur Utama JNK Iwan Moedyarno mengatakan bahwa kecelakaan yang kerap terjadi di ruas Ngawi—Kertosono disebabkan kelalaian pengemudi. Dia mengungkapkan bahwa tol Ngawi—Kertosono terletak di tengah antara koridor barat dan timur jaringan tol Trans-Jawa.

“Di sini titik lelah para pengemudi. [Sebanyak] 70% kecelakaan disebabkan pengemudi mengantuk, lengah, meleng. Seringnya kecelakaan itu tabrak dari belakang,” tutur Iwan di Surabaya, Senin (27/5).

Senada, kecelakaan yang terjadi di ruas Batang—Semarang juga lebih banyak disebakan faktor kelalaian manusia.

Direktur Utama JSB Arie Irianto mengatakan bahwa sudah ada 18 kasus kecelakaan di jalan tol sepanjang 75 kilometer itu hingga April 2019.

Salah satu insiden melibatkan Bupati Demak Muhammad Natsir di KM 349 pada 2 Februari 2019. Dalam kecelakaan itu, Natsir mengalami luka ringan, sedangkan seorang ajudannya meninggal dunia di lokasi kejadian.

Ari menerangkan bahwa pengemudi berpeluang besar mengalami kelelahan karena dari Jakarta sudah menempuh enam ruas tol sepanjang lebih dari 300 kilometer.

“Safety ini menjadi isu. Oleh karena itu, kami imbau untuk menyiapkan kondisi fisik karena penyebab kecelakaan itu mengantuk dan pecah ban,” kata Arie di Semarang, Selasa (28/5).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mudik lebaran 2019

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top