Menhub Sebut Penurunan Muka Tanah Jadi Penyebab Anjloknya Kereta di Nagreg

Proses perbaikan rel kereta yang anjlok masih terus berlangsung.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 30 Mei 2019  |  23:54 WIB
Menhub Sebut Penurunan Muka Tanah Jadi Penyebab Anjloknya Kereta di Nagreg
Pekerja memperbaiki bantalan rel di Km 193 - 192 antara Stasiun Lebakjero dan Stasiun Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (30/5/2019). Perbaikan tersebut dilakukan pascaanjloknya kereta Lodaya Tambahan keberangkatan Solo Balapan menuju Bandung pada Rabu (29/5/2019) malam. - ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Perhubungan menyatakan anjloknya KA Lodaya Tambahan Solo-Bandung disebabkan penurunan muka tanah.

Seperti diketahui, KA tersebut anjlok di jalur lintas selatan relasi Stasiun Lebakjero dan Stasiun Nagreg di KM 193-192 pada Rabu (29/5/2019). 

"Penyebabnya penurunan [muka tanah]. Di daerah Garut-Tasik itu kan daerah pegunungan, volume dan kecepatan kereta tinggi itu membuat tanah bergetar dan kalau ada hujan membuat kereta anjlok," ujar Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, seperti dilansir Tempo, Kamis (30/5).

Dia mengungkapkan pemerintah sebenarnya telah mengantisipasi kejadian itu dengan melakukan perawatan infrastruktur. Pengecekan kondisi rel pun sudah dilakukan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebelum masa mudik Lebaran 2019.

Perbaikan rel kereta api tersebut memerlukan pemasangan 700 bantalan rel. Dalam proses perbaikan, petugas menerapkan sistem windows time, yakni saat ada kereta, petugas menghentikan sementara kegiatan perbaikan rel dan kegiatan pembenahan jalur kembali dilakukan ketika tak ada kereta yang melintas.

Proses perbaikan rel membuat perjalanan kereta dari dan menuju Bandung terlambat. Pasalnya, kereta hanya bisa melaju dengan kecepatan 30 kilometer (km) per jam di jalur yang diperbaiki.

Ada tujuh kereta dari wilayah Daop 2 yang terpaksa mengalami perubahan pola operasi akibat peristiwa ini, yakni dengan memutar ke lintas utara menuju Purwakarta, Cikampek, Cirebon, Puwokerto, dan Kroya. Ketujuh kereta itu adalah KA Turangga, KA Lodaya reguler, KA Mutiara Selatan, KA Malabar, KA Kahuripan, KA Kutojaya Selatan, dan KA Lodaya Tambahan. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kereta api, Kemenhub

Sumber : Tempo

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top