OPINI: Habis Perang Dagang, Terbitlah Perang Dingin

Bila hubungan AS-China tidak dapat dikelola dengan baik, perang dingin dengan skala penuh akan menjadi keniscayaan. Selanjutnya rangkaian perang antar pendukung kedua belah pihak (proxy wars) tidak dapat diabaikan. Alhasil, di abad 21 ini jebakan Thucydides tidak hanya akan menelan AS dan China, tetapi juga menenggelamkan dunia
Tri Winarno, Ekonom Senior Bank Indonesia
Tri Winarno, Ekonom Senior Bank Indonesia - Bisnis.com 28 Mei 2019  |  12:46 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Negosiasi perdagangan antara AS dan China telah gagal, karena Gedung Putih mengatakan China mundur dari kesepakatan mereka tentang hal-hal yang sebelumnya telah disepakati. Akhirnya, pada 10 Mei Presiden Trump menaikkan tarif AS lebih dari dua kali lipat atas impor senilai US$200 miliar dari China.

Ketua perunding China, Liu He, mengatakan kepada pers bahwa karena kesepakatan akhir tidak tercapai, negosiasi dihentikan. China akan membalas kenaikan tarif yaitu senilai US$60 miliar impor dari AS. Padahal dalam berbagai pertemuan internasional, Presiden Xi Jinping selalu menekankan bahwa kebangkitan China akan selalu bermuatan pesan kedamaian.

Negara lain, terutama AS tidak perlu khawatir akan adanya Thucydides Trap. Thucydides adalah sejarawan Yunani yang mencatat bagaimana ketakutan Sparta terhadap kebangkitan Athena yang berujung perang. Graham Allison dari Universitas Harvard di dalam bukunya berjudul Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’s Trap? menganalisis bahwa dari 16 kali persaingan antara petahana (super power/AS) dan pendatang baru (new coming super power, misalnya China), telah terjadi 12 kali peperangan.

Tak diragukan lagi dalam kasus ini Xi meminta kita untuk fokus pada empat persaingan yang tersisa, yaitu yang tidak berujung pada peperangan.

Walaupun AS dan China menyadari adanya Thucydides Trap dan arah sejarah tidak selalu deterministik tetapi arah menuju peperangan sepertinya tidak dapat dihindari. Walaupun pertempuran ‘fisik’ masih jauh dari kenyataan, perang dingin antara mereka sulit dinafikan, diawali dengan sengitnya perang dagang antar mereka yang akan berkelanjutan.

AS menyalahkan China atas perkembangan situasi terbaru. Sejak bergabung dengan WTO (World Trade Organization) pada 2001, China telah memetik manfaat dari sistem perdagangan global dan sistem investasi internasional. Namun China tidak memenuhi kewajibannya dan hanya sebagai free rider. Menurut AS, China maju karena melakukan pencurian hak cipta, transfer teknologi yang dipaksakan, subsidi terhadap perusahaannya, dan penggunaan instrumen kapitalis lainnya.

Di saat yang sama, Pemerintah China semakin otoriter sehingga bertransformasi menjadi Orwellian Surveillance State. Di lain pihak, China menuduh AS sengaja menghalang-halangi kebangkitannya dalam kancah internasional. Padahal menurut China, wajar bila Beijing sebagai ekonomi terbesar kedua berdasarkan produk domestik bruto semakin tampil menglobal.

Menurut para pemimpin China, mereka mampu meningkatkan kesejahteraan 1,4 milliar penduduk menjadi negara yang berhasil mentrasformasi kemiskinan menjadi kelas menengah terbanyak di dunia, di tengah sistem pemerintah liberal Barat yang kesejahteraan rakyatnya kian menurun.

Terlepas dari kebenaran argumen AS dan China, ketegangan ekonomi, perdagangan dan teknologi serta geopolitik keduanya akan semakin tereskalasi. Diawali dengan perang dagang maka terbitlah perang dingin. Strategi keamanan nasional pemerintahan Trump menganggap China sebagai pesaing yang membahayakan hegemoni AS. Karena itu Trump akan melakukan penghadangan terhadap kemajuan China di semua front.

Prakteknya, AS dengan ketat membatasi investasi asing langsung dari China untuk sektor-sektor sensitif dan melakukan berbagai upaya untuk memastikan bahwa dominasi Barat terhadap industri strategis seperti kecerdasan buatan dan 5G.

Bahkan AS sedang melakukan tekanan pada sekutunya agar tidak berpartisi dalam proyek OBOR (one belt, one road), yaitu program China yang masif untuk membangun proyek infrastruktur yang terbantang dari Asia hingga ke Eropa. Selain itu AS dengan intensif menggalakan patroli di laut China Selatan, kawasan yang menjadi area sengketa antara China, Vietnam, Malaysia dan Filipina, dimana China semakin agresif menegaskan klaim wilayahnya di kawasan tersebut.

Konsekuensi global perang dingin tersebut akan semakin parah dibandingkan dengan perang dingin antara AS dan Uni Soviet. Saat itu Soviet adalah pesaing AS yang semakin pudar dengan model ekonomi yang gagal. Adapun China segera menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia dan bertumbuh dengan fondasi kekuatan ekonomi yang semakin tangguh.

Perang dagang total antara AS dan China kian sulit dielakkan, sehingga akan memicu era baru deglobalisasi atau setidaknya ekonomi global akan terbagi menjadi dua blok yang saling tidak compatible. Skenario manapun terjadi, perdagangan barang dan jasa, aliran modal, tenaga kerja, teknologi dan data akan benar-benar terbatas. Sistem digital akan menjadi splinternet, dimana antara Barat dan China tidak akan tersambung satu sama lain.

AS telah mengenakan sanksi pada ZTE dan Huawei. Alhasil, China akan berjuang keras memastikan bahwa teknologinya mendapatkan sumber input utama yang berasal dari domestik maupun dari negara sahabatnya yang tidak tergantung AS. Ini mirip perang Balkan. China dan AS akan saling berebut pengaruh, sementara banyak negara ketiga berusaha tetap netral dengan tetap mempertahankan hubungan ekonomi dengan kedua negara tersebut.

Selain itu saat ini banyak sekutu AS yang menjalin bisnis lebih banyak dengan China daripada dengan AS. Namun, ke depan hampir tidak ada pilihan bagi negara ketiga, karena baik AS maupun China akan membatasi akses teknologi seperti kecerdasan buatan dan 5G. Setiap negara tidak ada yang netral lagi, dan dunia memasuki proses deglobalisasi yang panjang dan melelahkan.

Apapun yang segera terjadi adalah, hubungan AS-China akan menjadi isu geopolitik kunci abad ini. Rivalitas antara keduanya tak terhindarkan. Namun idealnya, kedua pihak seharusnya dapat mengelola kompetisi tersebut secara konstruktif, yaitu melakukan kerja sama untuk berbagai isu dan bersaing dengan sehat untuk isu-isu lainnya.

Alhasil, keduanya mampu menciptakan tata dunia baru yang didasarkan pada kesadaran bahwa kebangkitan kekuatan baru seharusnya diberi peran untuk ikut aktif membentuk aturan dan institusi global yang menjamin terciptaannya kesejahteraan dan keamanan internasional.

Bila hubungan AS-China tidak dapat dikelola dengan baik, perang dingin dengan skala penuh akan menjadi keniscayaan. Selanjutnya rangkaian perang antar pendukung kedua belah pihak (proxy wars) tidak dapat diabaikan. Alhasil, di abad 21 ini jebakan Thucydides tidak hanya akan menelan AS dan China, tetapi juga menenggelamkan dunia.

Menyikapai perkembangan tersebut, Indonesia harus cerdas dan tepat menentukan sikap dan akan berpihak kemana. Keberpihakan akan menjadi keniscayaan, tergantung dari warna dan pandangan politik kelompok yang ada di panggung pemerintahan. Setiap pilihan akan membawa konsekuensi, tidak hanya ekonomi 270 juta penduduk negeri tetapi menyangkut takdir NKRI.

Pemeo yang menyatakan bahwa ‘gajah lawan gajah, pelanduk mati ditengah-tengah’ harus disingkirkan dari benak setiap anak bangsa yang cerdas. Kita ubah menjadi ‘gajah lawan gajah pelanduk ketawa dipunggung gajah’.

Perlu diingat bahwa di Asia akan terbelah menjadi dua kelompok. Mereka yang berpihak ke AS adalah Jepang, Korea Selatan, Vietnam, Thailand, Malaysia, India, dan Filipina. Adapun yang berada pada sisi China adalah Korea Utara, Myanmar, Laos, Kamboja, Pakistan dan Singapura. Indonesia kemana?

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Selasa (28/5/2019)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top