Jalur Darat Penuh Risiko, Ini Tips Aman Mudik Lebaran dari YLKI

YLKI mengingatkan pemerintah dan pemudik bahwa keselamatan merupakan prioritas utama menghadapi arus mudik Lebaran 2019.
Jalur Darat Penuh Risiko, Ini Tips Aman Mudik Lebaran dari YLKI Rinaldi Mohammad Azka | 27 Mei 2019 11:48 WIB
Jalur Darat Penuh Risiko, Ini Tips Aman Mudik Lebaran dari YLKI
Ilustrasi - Arus Mudik Jalur Puncak Bogor Suasana kemacetan arus mudik di Jalan Raya Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (4/7/2016). Pada H-2 Lebaran, Volume kendaraan pemudik yang melintas di Jalur Selatan Puncak, menuju daerah lain di Jawa Barat seperti Cianjur, Bandung dan Tasikmalaya meningkat dan mengalami kemacetan parah di sejumlah titik. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengingatkan pemerintah dan pemudik bahwa keselamatan merupakan prioritas utama menghadapi arus mudik Lebaran 2019.


Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menuturkan, hal yang krusial selama mudik Lebaran adalah aspek keselamatan, sebab fenomena mudik Lebaran adalah turunnya derajat keselamatan, khususnya untuk pengguna moda transportasi jalan raya, angkutan penyeberangan, dan angkutan pelayaran rakyat.


Prediksi Kementerian Perhubungan, 50% warga Jabodetabek akan mudik Lebaran dan 40% akan menggunakan jalan tol, dan sekitar 924.000 akan menggunakan sepeda motor untuk mudik.


Dia mengimbau agar para pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi baik roda empat dan atau roda dua, mengutamakan keselamatan dalam berlalu lintas.


"Yakinkan bahwa kendaraan bermotor Anda sudah dinyatakan laik jalan, khususnya untuk perjalanan jarak jauh. Apalagi untuk kendaraan yang sudah usia lanjut," terangnya, kepada Bisnis, Senin (27/5/2019).


Selain itu, dia mengingatkan agar muatan kendaraan tidak melebihi kapasitasnya, baik jumlah penumpang maupun barang. Muatan yang berlebih akan membahayakan keselamatan berkendara.


Dia mengingatkan bagi pengguna kendaraan roda empat yang melewati jalan tol supaya memastikan saldo e-toll mencukupi. Jangan sampai kesulitan di jalan tol, karena saldo e-toll kurang, karena saat ini e-toll wajib dalam perjalanan.


"Ikuti dan patuhi rambu-rambu lalu lintas [lalin] yang ada, pelanggaran rambu-rambu lalin adalah pemicu awal terjadinya kecelakaan, dengan korban fatal. Jangan melawan arus atau merebut lajur orang lain, selain membahayakan, juga akan mengakibatkan kemacetan yang mengunci, gridlock," tuturnya.


Tulus meminta agar pemudik tidak memaksakan diri memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, hanya karena ingin cepat sampai tujuan. Menurutnya, lebih baik terlambat atau tidak berangkat, daripada berangkat tapi tidak sampai tujuan. "Beristirahatlah di rest area yang aman, seperti SPBU dan masjid, setiap 3-4 jam mengemudi," tambahnya.


Selain itu, dia menyarankan agar pemudik memastikan stok bahan bakar dalam keadaan cukup, bahkan dalam keadaan penuh, mengingat jarak tempuh yang jauh, khususnya di jalan tol Trans-Jawa dan tol Trans-Sumatra, jarak antar-rest area berjauhan. Sediakan pula ban serep dan berfungsi dengan baik. Ban serep sangat penting jika mengalami ban kempis, meletus.


"Ingat, sesungguhnya perjalanan darat mudik Lebaran adalah perjalanan yang berisiko tinggi, mengingat volume traffic yang meningkat lebih dari 100%, belum lagi jika disandera dengan kemacetan parah selama perjalanan. Keselamatan bertransportasi adalah kata kunci yang pertama, dan utama," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ylki, mudik lebaran 2019

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top