Menhub : Jalur Darat Paling Ramai Pemudik, Antisipasinya Krusial

Moda transportasi darat menjadi paling ramai pemudik menjelang Angkutan Lebaran 2019.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 27 Mei 2019  |  11:04 WIB
Menhub : Jalur Darat Paling Ramai Pemudik, Antisipasinya Krusial
Foto udara rencana jalur pengalihan arus mudik jalur Pantura Tegal, Jawa Tengah, Minggu (26/5/2019). - ANTARA/Oky Lukmansyah

Bisnis.com, JAKARTA - Moda transportasi darat menjadi paling ramai pemudik menjelang Angkutan Lebaran 2019. Catatan Kementerian Perhubungan ada 28 juta pemudik transportasi pribadi melalui jalur darat, belum termasuk angkutan umum, sehingga antisipasinya menjadi krusial.


Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menuturkan, pemudik tergiur menjajal infrastruktur tol Trans-Jawa dan Trans-Sumatra yang baru selesai dan diklaim dapat membuat waktu tempuh menjadi lebih pendek. Alasan ini mengesampingkan fakta harga tiket penerbangan yang disebut tinggi dalam beberapa waktu terakhir.


"Kalau dilihat dari matra-matra ini, darat menjadi yang paling ramai, kalau udara dikendalikan oleh orang atau maskapai, kereta api maskapai, tetapi darat ini individu memiliki kebebasan untuk berkendaraan. Oleh karenanya, kebebasan ini kita atur dalam satu skema agar ini dapat diselesaikan dengan baik," terangnya dalam sesi wawancara khusus dengan Bisnis Indonesia, akhir pekan lalu.

Dia mengungkap jumlah pemudik yang menggunakan moda pribadi berdasarkan survei Kemenhub mencapai 28 juta orang di seluruh Indonesia. Sementara pengguna angkutan umum hanya mencapai 25 juta jiwa.


"Ini pertumbuhan angkutan pribadi ini naik, jadi pekerjaan rumah kita juga, untuk mengurangi orang menggunakan angkutan pribadi. Pola angkutan umum di kota besar juga belum maksimal penggunaan kendaraan umumnya," tuturnya.


Menghadapi hal tersebut, Kemenhub menyiapkan sejumlah strategi guna mengantisipasi lonjakan pengguna kendaraan pribadi, sebab ada berkisar 5,24 juta orang pengguna kendaaran pribadi keluar dari Jabodetabek menuju berbagai daerah tujuan mudik.


Dia bercerita salah satu kebijakan yang berbeda pada tahun ini yakni adanya one way atau satu arah jalan tol dari Gerbang Tol Cikampek Utama KM 29 hingga Brebes Barat di KM 263 selama 3 kali 24 jam pada 31 Mei--2 Juni 2019.


"Sebelumnya ada dua keputusan menggunakan one way atau ganjil genap. Ganjil-genap agak beresiko, akhirnya pilih one way, one way pun jauh, jadi sekitar 230 kilometer, kira-kira 2,5 jam itu. Kita harapkan memang ini menyerap lalu lintas yang ada," terangnya.


Budi Karya turut mengkampanyekan pula jalur selatan Jawa karena diprediksi akan lebih lengang daripada jalur yang lain, pengguna dapat sekaligus berwisata di jalur tersebut.


Sementara itu, jalur pantai utara diprediksi paling padat karena mengakomodir jalur pengguna sepeda motor pribadi ke arah timur, serta bus dan truk yang mengarah ke Jakarta akibat kebijakan satu arah tersebut yang tidak memperbolehkan mereka menggunakan tol. Antisipasinya terutama dengan menertibkan pasar tumpah dan pengadaan rambu-rambu tambahan.


Dia menegaskan, saat pelaksanaan mudik Lebaran 2019 ini, kebijakan Ditjen Perhubungan Darat akan menjadi wewenang Korps Lalu Lintas Polri.


"Kami juga tetap memberikan ruang, karena diskresi itu bisa dilakukan oleh Korlantas, yang bus sudah didiskusikan tinggal Kakorlantas mau membuat apa, ini juga bisa saja dibuat malam dua arah, siang itu satu arah semuanya, terserah Kakorlantas. Kita kasih mandat sudah 3 tahun terakhir," jelasnya.


Di sisi lain, dia memprediksi kepadatan terjadi di Pelabuhan Merak, Banten. Berdasarkan pengalaman, H--3 Lebaran, Pelabuhan Merak dipadati pemudik di malam hari hingga 3 kali lipat arus normal.


Dengan demikian, Kemenhub menyiapkan antisipasi memecah kepadatan dengan menerapkan dynamic pricing atau harga penyeberangan malam lebih mahal daripada di siang hari sebesar 30%.


"Terus kami bikin kapal gratis dari Jakarta ke Panjang, kita bikin kapal gratis dari Jakarta ke Semarang. Itu berikut motor semuanya, karena kita menganjurkan orang tidak menggunakan motor," tuturnya.

Pengurus Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menuturkan, mudik melalui jalur darat ini fokus utamanya bukan lagi mengurai kemacetan tetapi pada keselamatan.


"Perlu kewaspadaan, kalau bicara keselamatan itu untuk semuanya pasti, kedua bicara keamanan. Keselamatan ini meski angka kecelakaan musim mudik turun sampai dengan 70% tahun lalu, tetapi [kecelakaan] sepeda motor masih tinggi dan setiap tahun masih ada anak-anak yang meninggal karena kecelakaan itu, sampai sekarang juga belum ada antisipasi larangan mudik membawa anak-anak menggunakan sepeda motor," ungkapnya kepada Bisnis, Minggu (26/5/2019).

Dia menyarankan pemudik sepeda motor tidak menempuh jarak terlalu jauh dan batas maksimal berkendara baik pengguna motor maupun mobil hingga 3 jam penuh. Selebihnya, pemudik harus beristirahat.


Selain itu, dia menilai satu arah tol Trans Jawa tidak akan efektif apabila diterapkan selama 24 jam, seharusnya satu arah tersebut berlaku fungsional sesuai kebutuhan di lapangan. Pasalnya, kebutuhan arus balik menuju Jakarta oleh para perusahaan otobus (PO) dan pengguna jalan lainnya harus tetap terakomodasi.


Terkait keselamatan, dia meminta agar Menteri Perhubungan berani tegas berkomitmen untuk memberhentikan siapa saja bawahannya yang bertanggung jawab atas kelalaian tidak tercapainya standar pelayanan minimal (SPM) di masing-masing wilayah dan moda transportasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jalan tol, menhub, angkutan lebaran

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top