Pembangunan Tanggul Tsunami 7,2 Km Di Teluk Palu Bakal Sia-Sia

Bentuk tanggul tsunami yang direncanakan tidak jauh berbeda dengan tanggul tsunami yang dibangun oleh Pemerintah Jepang seperti di antaranya di Kota Sinday, Onagawa dan Matsusima pasca tsunami 2011 yang meluluhlantahkan wilayah tersebut.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 27 Mei 2019  |  08:49 WIB
Pembangunan Tanggul Tsunami 7,2 Km Di Teluk Palu Bakal Sia-Sia
Ilustrasi - Bangunan yang porak-poranda akibat gempa bumi 9 Skala Richter (SR) yang memicu tsunami di Onagawa, Prefektur Miyagi, Jepang, pada 11 Maret 2011. - Bisnis/Reuters

Bisnis.com, PALU--Ademisi menyarankan perlunya kajian ulang terhadap rencana membangun tanggul tsunami sepanjang 7,2 kilometer dengan ketinggian enam meter di  kawasan Teluk Palu bersama Japan International Coorporation Agency (JICA).

Peneliti dan akademisi Fakultas Teknik Universitas Tadulako, Amar Akbar Ali mengatakan bentuk tanggul tsunami yang direncanakan tidak jauh berbeda dengan tanggul tsunami yang dibangun oleh Pemerintah Jepang seperti di antaranya di Kota Sinday, Onagawa dan Matsusima pasca tsunami 2011 yang meluluhlantahkan wilayah tersebut.

"Di lokasi tsunami Teluk Palu  memiliki karakteristik yang jauh berbeda dengan tsunami di Jepang yang  tidak ada patahan di bawahnya, sehingga layak dibangunkan tanggul tsunami di sana. Sementara di Teluk Palu di bawahnya itu ada patahan," kata Amar Akbar dalam diskusi Libun Todea yang dilaksanakan Pemerintah Kota Palu di salah satu warkop di Palu, Sabtu hingga Minggu (26/5/2019).

Jika pemerintah memutuskan membangun tanggul tsunami yang sama di sepanjang kawasan Teluk Palu, katanya, maka upaya tersebut percuma dan biaya pembangunan tanggul tsunami dalam bentuk utang yang ditaksir senilai Rp668 miliar itu akan sia-sia.

"Kalau gempa pasti patahan di bawah itu bergerak. Kita ambil contoh patahan di bawah jalan Diponegoro yang di depan PGM (Palu Grand Mall). Saat gempa magnitudo 7,4 ruas jalan di sana bergeser sekitar 1,5 meter dari posisi semula. Kalau suatu saat terjadi gempa dan tanggul itu sudah dibangun, pasti tanggul yang sifatnya masih (padat) itu bergerak juga," jelasnya.

Selain itu karakteristik kawasan Teluk Palu yang berbeda-beda di tiap titiknya juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi seluruh pihak yang terkait. Oleh karena itu langkah yang diambil untuk memitigasi bencana di setiap zona di kawasan Teluk Palu yang memilki sejumlah karakteristik itu tidak bisa sama.

Menurutnya, di kawasan garis pantai Teluk Palu itu karakteristiknya beda-beda. Misalnya, mulai dari Kelurahan Pantoloan sampai ke Mamboro memiliki karakteristik tersendiri. Dari Mamboro keTondo, Tondo ke Talise, Talise terus sampai ke Kelurahan Watusampu itu berbeda karakteristiknya.

“Sebenarnya kalau pengkajiannya kita harus membuat zona-zona tersendiri," jelasnya.

Dia mengatakan bahwa beberapa akademisi teknik dari Untad tengah membuat suatu penelitian. "Di kawasan Taman Ria kami mencoba memodelkan karakteristik zona di sana karena ini berdampak dengan model patahan yang ada . Jadi tsunami juga terjadi patahan. Kalau tsunami di Jepang terjadi masif . Ini penelitian yang kita buat agar dapat menghidupkan kembali kawasan-kawasan tersebut,"katanya.

Para pemangku kebijakan mulai dari daerah hingga pusat agar mengkaji dan meninjau kembali rencana pembangunan tanggul tsunami tersebut.

Dia juga setuju jika upaya mitigasi bencana juga menyertakan pembangunan pohon mangrove yang dipadupadankan dengan tanggul tsunami jika rencana itu tetap dijalankan.

"Maka perlu menjadi kajian kita semua bagaimana model tanggul tsunami yang akan dibuat mengingat ada patahan di bawah Teluk Palu ini. Hasil-hasil kajian ini nantinya harus menjadi renungan dan pertimbangan kita semua,"ucapnya dalam forum yang dihadiri aktivis dari berbagai komunitas peduli lingkungan dan sejumlah akademisi teknik dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.

Sementara itu Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Palu, Arfan yang hadir dalam dialog itu menyebut jika rencana pembanguan tanggul tsunami belum final.

Saat ini Wali Kota Palu Hidayat bersama sejumlah pihak yang terkait memenuhi undangan JICA ke Jepang, rencana pembangunan tanggul tsunami yang ditawarkan oleh JICA telah disetujui oleh Wali Kota Palu.

"Disetujui untuk dikaji dan dibiayai. Jadi bukan setuju untuk langsung dibangun," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tsunami, Gempa Palu

Sumber : Antara

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top