KABAR PASAR 21 MEI: Upaya Jaga Stabilitas Rupiah, Industri Substitusi Impor Harus Dikembangkan

Berita terkait upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah serta pengembangan industri substitusi barang impor menjadi sorotan media massa hari ini, Selasa (21/5/2019).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 21 Mei 2019  |  08:55 WIB
KABAR PASAR 21 MEI: Upaya Jaga Stabilitas Rupiah, Industri Substitusi Impor Harus Dikembangkan
Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta, Senin (2/7/2018)./ANTARA FOTO - Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Berita terkait upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah serta pengembangan industri substitusi barang impor menjadi sorotan media massa hari ini, Selasa (21/5/2019).

Berikut ringkasan topik utama di sejumlah media nasional:

Upaya Jaga Stabilitas Rupiah. Keputusan Bank Indonesia merelaksasi aturan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) diyakini bakal mendorong pendalaman pasar valuta asing sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. (Bisnis Indonesia)

Industri Substitusi Impor Harus Dikembangkan. Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) merekomendasikan agar pemerintah mengembangkan industri substitusi barang impor dan penghiliran produk kelapa sawit dalam rangka memperbaiki defi sit neraca perdagangan dan defi sit transaksi berjalan. (BIsnis Indonesia)

Pemerintah Akan Tetap Ekspansif. Pemerintah menyatakan akan menerapkan kebijakan fi skal ekspansif yang terarah dan terukur pada tahun depan dalam rangka menghadapi pelemahan ekonomi global dan menjaga momentum pembangunan serta pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. (Bisnis Indonesia)

Tantangan 2020 Cukup Berat. Pemerintah menilai tantangan makro ekonomi pada 2020 cukup berat seiring dengan tingginya risiko yang berasal dari dinamika perekonomian global. (Bisnis Indonesia)

Kucurkan Kredit Online, Bank Menyerang Balik Tekfin. Keagresifan perusahaan teknolog finansial (tekfin) alias financial technology (fintech) peer to peer (p2p) lending menawarkan pinjaman secara daring menjadi tantangan baru bagi industri perbankan. Tak mau kalah, bank melakukan serangan balik dengan produk pinjaman lewat online. (Kontan)

Risiko Tinggi, Pemerintah Jaga Defisit. Eskalasi perang dagang dan persaingan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan China meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Konflik ini memperparah pertumbuhan ekonomi global dan melemahkan perdagangan internasional. Namun, pemerintah tetap memasang target ambisius pada rencana kerja tahun depan. (Kontan)

Alokasi Belanja Modal di Atas Rp 200 Triliun. Pemerintah bakal memperbesar anggaran belanja modal tahun depan. Rencana ini ini sesuai dengan tema kebijakan fiskal tahun 2020, yaitu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk akselerasi daya saing, melalui inovasi dan penguatan sumber daya manusia (SDM). (Kontan)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kabar pasar

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup