Industri Pengolahan Diproyeksi Tumbuh di Kuartal II 2019

Kementerian Perindustrian meyakini pertumbuhan sektor pengolahan pada kuartal II membaik dibandingkan kuartal sebelumnya. Optimisme juga disampaikan oleh asosiasi pelaku usaha dan pakar ekonomi.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 20 Mei 2019  |  19:40 WIB
Industri Pengolahan Diproyeksi Tumbuh di Kuartal II 2019
Pekerja farmasi beraktivitas memproduksi obat di pabrik Pfizer Indonesia, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perindustrian meyakini pertumbuhan sektor pengolahan pada kuartal II membaik dibandingkan kuartal sebelumnya. Optimisme juga disampaikan oleh asosiasi pelaku usaha dan pakar ekonomi.

Haris Munandar, Sekretaris Jenderal Kemenperin, mengatakan pihaknya memprediksi seusai pemilihan umum 17 April 2019 lalu iklim usaha semakin membaik. Selain itu, konsumsi juga meningkat dengan adanya tunjangan hari raya (THR) serta gaji ke-13 bagi pegawai negeri sipil (PNS).

"Bisa lebih baik lah dari kuartal lalu, mendekati 5%," ujarnya di Jakarta, Senin (20/5/2019).

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), laju pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan sepanjang periode Januari--Maret 2019 tercatat sebesar 4,80% y-o-y. Pertumbuhan ini melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,08%, sementara pada kuartal II/2018 tumbuh sebesar 4,27%.

Menurut Haris, iklim usaha pasca pemilihan presiden dan anggota legislatif semakin membaik setelah sebelumnya para investor memilih wait and see. Dia juga menyatakan menjelang Lebaran banyak masyarakat yang membelanjakan uangnya untuk produk tekstil dan makanan serta minuman.

Peredaran uang ke daerah pun semakin kencang karena banyak masyarakat yang mudik atau pulang kampung. "Liburnya panjang, sehingga orang bisa spend lebih besar," jelasnya.

Mohammad Faisal, Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (Core) Indonesia sebelumnya memproyeksikan ke depan industri manufaktur dalam negeri masih bisa tumbuh walaupun tipis. Dia meyakini industri pengolahan non migas masih ekspansif dan tidak sampai mengalami kontraksi, hanya saja relatif melambat.

Oleh karena itu, lanjutnya, ke depan dibutuhkan perubahan kebijakan pemerintah, terutama setelah terjadi pergantian kepemimpinan pada tahun ini.

“Salah satunya industri pengolahan harus menjadi prioritas pemerintah. Tanpa ada perubahan kebijakan [terkait industri pengolahan], tren akan begini terus. Untungnya, tahun ini ketika eksternal melemah, dalam negeri masih menguat karena ada pemilu,” jelas Faisal.

Firman Bakri, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), mengatakan permintaan global pada Maret dan April biasanya peningkatan dan mencapai peak season pada kuartal akhir setiap tahun. Khusus untuk pasar domestik, permintaan diyakini menguat menjelang Lebaran.

Beberapa faktor pendorongnya antara lain penerimaan tunjangan hari raya (THR) dan kenaikan gaji pegawai negeri sipil (PNS) dan budaya masyarakat Indonesia yang menggunakan THR untuk membeli keperluan sandang, termasuk alas kaki, baru saat Hari Raya Idul Fitri.

“Setelah Lebaran, ada tahun ajaran baru sekolah sekitar Juni—Juli, ini juga mendorong konsumsi alas kaki nasional,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri manufaktur, industri manufaktur

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top