Aberdeen Standard Investments Indonesia : Indonesia Harus Tangkap Peluang di Tengah Perang Dagang

Manajer Investasi asal Inggris PT Aberdeen Standard Investments Indonesia melihat Indonesia masih memiliki peluang di tengah-tengah eskalasi tensi dagang antara AS dan China sekarang ini.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 17 Mei 2019  |  10:49 WIB
Aberdeen Standard Investments Indonesia : Indonesia Harus Tangkap Peluang di Tengah Perang Dagang
Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (29/4/2019)./ANTARA FOTO - Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA—Manajer Investasi asal Inggris PT Aberdeen Standard Investments Indonesia melihat Indonesia masih memiliki peluang di tengah-tengah eskalasi tensi dagang antara AS dan China sekarang ini.

Bharat Joshi, Investment Director Aberdeen Standard Investments Indonesia menilai, perang tarif antara dua ekonomi utama dunia tersebut tidak akan memberikan dampak langsung bagi Indonesia.

“Kalau kita lihat ke Indonesia, secara langsung [perang dagang] tidak akan berdampak besar. Dari sisi ekspor, Indonesia hanya mengekspor batu bara ke China. Saya melihat imbas terbesarnya justru ke inflasi,” kata Bharat melalui keterangan resmi, dikutip Jumat (17/5/2019).

Namun, yang perlu diperhatikan adalah dolar AS yang kian meningkat akibat memanasnya tensi dagang tersebut. Pasalnya, hal itu akan memukul nilai tukar rupiah.

Selanjutnya, ujar Bharat, apabila rupiah melemah yang terjadi adalah beban bagi APBN. Alhasil, banyak harga barang yang akan naik lantaran harga bahan baku mentah yang diimpor menjadi mahal (inflasi).

Dirinya berharap, kabinet pemerintahan yang baru nanti dapat melanjutkan stabilitas yang sudah berjalan cukup baik saat ini. Selain itu, pemerintah yang baru juga harus mampu menyiapkan strategi khususnya untuk meredam kenaikan harga-harga supaya imbasnya tak terlalu dirasakan oleh masyarakat.

Bharat menyarankan salah satu caranya adalah dengan memastikan stabilitas suku bunga acuan. Pasalnya, dengan inflasi yang stabil, ada peluang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga. Dengan demikian, perekonomian Indonesia di beberapa sektor tertentu diharapkan bisa bergairah lagi.

Lebih lanjut, Bharat menilai perang dagang AS—China lebih menciptakan resesi ekonomi teknikal bagi keduanya. Jumlah barang yang masuk ke AS dari China akan berkurang menyebabkan harga naik, sementara China pun akan kesulitan mencari pasar baru selain AS.

Sementara itu, peluangnya bagi kawasan Asia Tenggara terbuka dalam bentuk diversivikasi rantai pasokan. Kata Bharat, hal ini akan menguntungkan pemasok lokal untuk mendapatkan manfaat dari pergeseran pesananan ke kawasan ini. Indonesia pun tak terkecuali, berada di posisi yang baik untuk menangkap peluang.

“Saya melihat di dua skenario ini, Indonesia tetap menang. Kalau ekonomi akan terus berkembang, Indonesia untung. Kalau AS dan China tetap berperang, Indonesia juga tidak perlu menaikkan suku bunga,” paparnya.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, pasar modal, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top