Perang Dagang China vs AS : Produksi Kertas Indonesia Akan Tumbuh

Industri pulp dan kertas diproyeksi akan tumbuh secara organik pada tahun ini. Selain itu, sebagian pihak memandang peningkatan eskalasi perang dagang China-Amerika Serikat tidak berpengaruh kepada industri kertas nasional.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 16 Mei 2019  |  21:40 WIB
Perang Dagang China vs AS : Produksi Kertas Indonesia Akan Tumbuh
Pohon Akasia jenis crassicarpa dipanen dan dilebur menjadi pulp untuk diolah menjadi kertas di pabrik pengolahan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). RAPP adalah pabrik pulp dan kertas Asia Pacific Resources International Holdings Ltd (APRIL) di bawah RGE Group milik Sukanto Tanoto. (Bisnis - Lahyanto Nadie)

Bisnis.com, JAKARTA – Industri pulp dan kertas diproyeksi akan tumbuh secara organik pada tahun ini. Selain itu, sebagian pihak memandang peningkatan eskalasi perang dagang China-Amerika Serikat tidak berpengaruh kepada industri kertas nasional.

Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menilai pertumbuhan produksi industri tahun ini akan dipengaruhi oleh penyelesaian pemasangan mesin di beberapa pabrik dan optimalisasi utilisasi. Asosiasi menilai momentum pemilihan umum tidak menggenjot produksi kertas mengingat volume kertas yang diserap ajang tersebut hanya sekitar 100.000 ton.

Ketua APKI Aryan Warga Dalam mengatakan salah satu peningkatan volume akan datang dari jalannya mesin produksi kertas di PT Oki Pulp & Paper Mills menjadi tiga lini produksi dari dua lini produksi ppada tahun lalu. Secara keseluruhan, lanjutnya, volume produksi kertas pada tahun ini setidaknya akan bertambah sekitar 8,3% pada akhir tahun menjadi 13 juta ton dari realisasi tahun lalu sekitar 12 juta ton.

Adapun, Aryan berpendapat perang dagang Cina-Amerika Serikat tidak terpengaruh. Pasalnya, target ekspor industri kertas lokal adalah Cina. Seperti diketahui, Indonesia dan China telah melakukan perjanjian dagang yang membuat bea masuk antar kedua negara tidak ada.

Arya mengemukakan industri kertas China kini sedang membutuhkan bahan baku untuk memenuhi konsumsi kertas Negeri Tirai Bambu. Setelah pemerintah Cina melarang impor kertas bekas, Arya menilai pasar industri kertas daur ulang domestik terbuka.

“Daur ulangnya tidak di sana, tapi di sini. Kalau kami bukan pulp-nya yang dikirim, kan kertasnya,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (16/5/2019).

Maka dari itu, tambahnya, produksi pulp di Tanah Air juga akan tumbuh. Menurutnya, produksi pulp akan tumbuh sekitar 10% menjadi 11 juta pada akhir tahun ini dari realisasi tahun lalu yakni 10 juta ton.

Di sis lain, Aryan menyatakan harga kertas pada tahun ini sudah mulai terkoreksi. Menurutnya, berkat harga kertas yang baik pada tahun lalu nilai ekspor industri pulp dan kertas mencapai US$1 miliar. Walaupun telah menujukan tanda-tanda kontraksi harga, Aryan optimis dapat membukukan nilai ekspor yang sama dengan tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top