Perang Dagang China vs AS : Lautan Luas (LTLS) Pacu Bisnis Logistik

LTLS merupakan perusahaan kimia hilir terintegrasi yang menyediakan bahan baku untuk industri lainnya, dengan lebih dari 2.000 pelanggan industri di Asia Pasifik.
Andi M. Arief | 16 Mei 2019 21:30 WIB
Saat ini, Lautan Luas mewakili lebih dari 100 prinsipal internasional, mendistribusikan lebih dari 1.000 produk kimia, dan melayani lebih dari 2.000 pelanggan dari sektor industri di seluruh Indonesia dan kawasan Asia Pasifik. - Lautan Luas

Bisnis.com, JAKARTA – PT Lautan Luas Tbk., perusahaan kimia hilir terintegrasi, siap memanfaatkan momentum perang dagang China vs Amerika Serikat untuk meningkatkan produksi. Perusahaan berkode LTLS juga menggenjot pertumbuhan salah satu lini bisnis logistik dan rantai pasok, seiring dengan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

LTLS merupakan perusahaan kimia hilir terintegrasi yang menyediakan bahan baku untuk industri lainnya, dengan lebih dari 2.000 pelanggan industri di Asia Pasifik. Lautan Luas saat ini mengoperasikan tiga belas fasilitas manufaktur di Indonesia, dua di Tiongkok, dan sebuah fasilitas manufaktur bahan kimia untuk pengolahan air di Vietnam.

Direktur Operasional LTLS Herman Santoso mengatakan, perseroan akan mengembangkan bisnis rantai pasok pada tahun ini. Pasalnya, pemerintah telah membangun banyak infrastruktur transportasi seperti jalan tol, pelabuhan, dan bandar undara.

“[Bisnis] kami yang besar itu logistik atau supply chain. Indonesia kan gencar di infrastruktur. Kayaknya [pertumbuhan bisnis] supply chain naiknya lebih tinggi secara presentase,” ujarnya, Kamis (16/5/2019).

Adapun, pada tahun ini LTLS berencana membentuk segmen bisnis yang fokus di bagian penunjang dan jasa yang menawarkan di bidang total solusi logistik, solusi pengolahan air, teknologi informasi, dan laboratorium.

Herman menambahkan perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan operasional maksimal perseroan dapat mencapai 13,05% menjadi Rp8 triliun dari realisasi pendapatan tahun lalu senilai Rp7,07 triliun. Adapun, pada tahun lalu pendapatan perseroan tumbuh 7,27% dari Rp6,59 triliun.

Herman mengutarakan pendorong pertumbuhan pendapatan operasional perseroan pada tahun lalu datang dari kualitas transaksi dan margin perseroan yang lebih baik dari tahun lalu. Selain itu, lanjutnya, perseroan juga berhasil menyusun struktur biaya operasional yang lebih lincah dan ramping. Alhasil, laba bersih perseroan naik 33,65% dari realisasi tahun lalu senilai Rp149 miliar.

“Investasi kami di [perusahaan] afiliasi yang [kepemilikannya] di bawah 50% juga membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Jadi, kombinasi itu [membuat laba bersih perseroan] naik kira-kira Rp50miliar,” jelasnya.

Herman memproyeksikan laba bersih perseroan pada tahun ini tidak akan bergerak jauh. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh perlambatan perekonomian di Tanah Air. Belum lagi, ujarnya, perang dagang China vs Amerika Serikat mempengaruhi perusahaan afiliasi maupun anak usaha perseroan yang berada di Taiwan, Vietnam, dan Singapura.

Namun demikian, Herman berpendapat perang dagang China-Amerika Serikat juga dapat membuka pasar ekspor baru, yakni Amerika Serikat.

Saat ini, Lautan Luas mewakili lebih dari 100 prinsipal internasional, mendistribusikan lebih dari 1.000 produk kimia, dan melayani lebih dari 2.000 pelanggan dari sektor industri di seluruh Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.

Untuk mengawasi jaringan distribusinya yang luas, Lautan Luas, yang berkantor pusat di Jakarta, mengoperasikan empat kantor cabang dan tujuh kantor perwakilan yang tersebar di berbagai kota besar di seluruh nusantara. Sebuah kantor regional ditempatkan di Singapura guna memantau kegiatan Perseroan di China, Thailand, dan Vietnam.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
logistik, lautan luas

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup