Tes Produksi Di Banyu Urip Belum Perlu Ubah Amdal

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menantikan high rate test (HRT) di Lapangan Banyu Urip sebagai terobosan dalam mengejar target produksi nasional.
David Eka Issetiabudi | 15 Mei 2019 15:45 WIB
Kilang minyak di Lapangan Banyu Urip Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (8/12/2016). - Bloomberg/Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menantikan high rate test (HRT) di Lapangan Banyu Urip sebagai terobosan dalam mengejar target produksi nasional.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher mengatakan dalam konteks HRT, ExxonMobil Cepu Limited tidak membutuhkan tambahan alat. Dengan begitu, tidak memerlukan perubahan Amdal, cukup melaporakn pelaksanaan HRT atau tes produksi pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. "Saat ini kita hanya perlu notifikasi ke KLHK," katanya, Selasa (14/5/2019).

Menurutnya, pada saat tes produksi, semua parameter lingkungan tetap dijaga memenuhi ketentuan dalam Amdal yang ada. Pasalnya, perhitungan SKK Migas dan KKKS kondisi sub surface sudah dievaluasi dan tidak berpengaruh signifikan terhadap plateau produksi, karena juga ada tambahan cadangan migas.

"Diharapkan HRT ini segera dilaksanakan sebagai langkah terobosan dalam mengejar target produksi nasional sebesar 775.000 bopd. Sudah ada pembahasan dengan SKK Migas dan EMCL tinggal melaksanakan hal tersebut," katanya.

Terkait kebutuhan investasi, ExxonMobil Cepu sudah menambahkan mesin pendingin untuk pendinginan crude sehingga bisa menaikkan produksi ke 200.000 bopd. Namun, lanjut Wisnu, dengan tes produksi diuji lagi kemampuan produksi apakah memungkinkan sampai ke 225.000 bopd.

Adapun HRT dilakukan selama 6 bulan, mulai Juni hingga November ke depan agar didapatkan data lengkap dengan mempertimbangkan musim kemarau dan hujan. "Kalau sudah yakin, kami hentikan dan mengusulkan revisi Amdal," tambahnya.

SKK Migas berharap HRT berjalan mulus, mengingat koordinasi antarsektor sudah dilakukan. Untuk memastikan kelancaran, SKK Migas mengaku intens berkonsulasi dengan Kementerian LHK untuk program HRT di Banyu Urip. Sejauh ini, Ditjen Migas telah memberikan rekomendasi untuk melakukan HRT. Adapun proses revisi Amdal dapat memakan waktu setahun.

"Kecuali [izin] permanen baru revisi Amdal. Ini juga data yg dibutuhkan untuk usulan revisi amdal. Kalau gak ada data, apa buktinya bisa bisa running segitu," tambahnya.

Sementara itu, Vice President Public and Government Affairs ExxonMobil Indonesia Erwin Maryoto mengatakan sejauh ini pihaknya terus melakukan tes produksi di atas 220.000 bopd untuk memastikan kemampuan fasilitas dan reservoir lapangan Banyu Urip. Adapun Proyek Kedung Keris milik ExxonMobil Cepu Ltd. sebesar 3.800 bopd dengan kesiapan 26,26%.

"Kinerja sumur yang baik, operasi yang aman dan andal, serta dukungan Pemerintah menjadikan ExxonMobil dapat meningkatkan produksi hingga 220.000 barel per hari, tanpa menambahkan peralatan," katanya.

Sebelumnya, target produksi siap jual minyak APBN 2019 sebanyak 775.000 barel per hari diproyeksi sulit tercapai dengan merujuk hasil kinerja hulu migas hingga April lalu.

Berdasarkan data SKK Migas, realisasi lifting migas hingga April 2019 mencapai 1,8 juta barel setara minyak per hari (boepd), dengan rincian lifting minyak 750.000 bph dan lifting gas 5.909 juta kaki kubik per hari (MMscfd).

Atas capaian tersebut, kinerja hulu migas per April baru mencapai 89,1% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 2,025 juta boepd.

Kedung Keris dan Banyu Urip merupakan dua lapangan di Blok Cepu. Saat ini, komposisi saham di Blok Cepu adalah ExxonMobil Cepu Limited sebagai operator memiliki saham 45%, PT Pertamina EP Cepu 45%, serta empat Badan Usaha Milik Daerah 10%. Keempat BUMD itu yaitu PT Blora Patragas Hulu, PT Petrogas Jatim Utama Cendana, PT Asri Darma Sejahtera, dan PT Sarana Patra Hulu Cepu.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
exxonmobil, banyu urip

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup