CPO Indonesia Lawan Kedelai Brasil dan Argentina Berebut Pasar China

Penurunan permintaan China terhadap kedelai AS berpotensi membuat negara tersebut mengalihkan sumber energi hijaunya ke CPO.
Yustinus Andri DP | 15 Mei 2019 14:01 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan tarif impor atas kedelai Amerika Serikat tidak lantas mendorong China menjadikan CPO sebagai subtitusi. Minyak sawit mentah produksi Indonesia masih harus bersaing dengan minyak kedelai produksi Argentina dan Brasil.

Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun mengaku belum terlalu yakin rencana China menaikkan bea masuk dan membatasi impor kedelai dan produk turunannya akan berdampak kepada kenaikan permintaan CPO oleh negara itu.

Dia menduga, saat ini China masih akan berusaha mengalihkan permintaan kedelai dan produk turunannya dari Argentina dan Brasil.

“Kami lihat selama 1—2 pekan ke depan. Kalau sekiranya impor kedelai [China] dari Argentina dan Brasil tidak sesuai dengan kebutuhan China, mereka pasti akan mengalihkannya ke CPO. Sejauh ini, kemungkinan itu masih sangat kecil sehingga harga CPO global masih sangat rendah,” ujarnya, Selasa (14/5/2019).

Ekonom Indef Ahmad Heri Firdaus menyarankan agar pelaku usaha dan pemerintah tidak hanya mengandalkan China sebagai satu-satunya tumpuan ekspor CPO apabila UE menerapkan RED II dan ILUC. Menurutnya, ekspor CPO dan produk turunannya harus dialihkan dan digenjot juga ke negara-negara lain.

“Kalau untuk negara maju selain UE, bisa kita arahkan untuk ekspor produk CPO berbasis energi seperti biofuel. Sementara itu, [untuk ke] negara berkembang atau pasar baru terutama negara berkembang di Afrika dan Amerika Latin, bisa kita arahkan untuk produk campuran makanan dan farmasi,” jelasnya.

Ketua Bidang Perdagangan dan Promosi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Master P. Tumanggor mengatakan pelaku usaha berharap agar penurunan permintaan China terhadap kedelai AS akan membuat negara tersebut mengalihkan sumber energi hijaunya ke CPO.

Dia melihat saat ini negara tersebut sedang berancang-ancang untuk menjadikan CPO sebagai komoditas substitusi minyak kedelai.

“Namun, semua itu belum pasti. Saat ini, kendati ada isu CPO sebagai substitusi minyak kedelai oleh China, kenaikan harga CPO global dalam beberapa hari terakhir tetap tidak terlalu signifikan,” ujarnya.

Dia pun menilai peralihan ekspor CPO Indonesia menuju China dari UE belum tentu akan membantu menyangga kinerja ekspor CPO secara keseluruhan.

Menurutnya, peningkatan konsumsi dalam negeri menjadi salah satu cara jitu untuk menjaga agar harga CPO meningkat. Dengan demikian, Master berharap agar percepatan pemberlakuan biodiesel B30 akan membantu mengangkat harga komoditas itu.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor cpo

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup