PM May Kompromistis dengan Oposisi

Perdana Menteri Inggris Theresa May tengah berkompromi dengan kalangan oposisi untuk mengantisipasi adanya risiko kehilangan dukungan dari internal partai terkait dengan kebijakan Brexit.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 14 Mei 2019  |  11:05 WIB
PM May Kompromistis dengan Oposisi
Perdana Menteri Inggris Theresa May. - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA - Perdana Menteri Inggris Theresa May tengah berkompromi dengan kalangan oposisi untuk mengantisipasi adanya risiko kehilangan dukungan dari internal partai terkait dengan kebijakan Brexit.

Surat kabar The Times melaporkan, para menteri kabinet termasuk Menteri Tenaga Kerja dan Urusan Pensiun Amber Rudd serta Menteri Bisnis Greg Clark tengah bersiap untuk mencegah May melanjutkan perundingan dengan Partai Buruh.

Mereka ingin May memilih opsi Rencana B di Parlemen, yang menurut pemerintah akan dilakukan jika negosiasi dengan oposisi gagal.

Perselisihan juga terjadi di internal Partai Buruh. Kepala juru bicara untuk urusan Brexit, Keir Starmer dan Wakil Ketua Partai Tom Watson mengatakan bahwa kesepakatan Brexit lintas partai tidak mungkin disetujui parlemen tanpa jaminan referendum kedua.

Di sisi lain, Ketua Partai Buruh, Jeremy Corbyn secara tegas telah menolak tuntutan referendum kedua, keputusan ini dia ambil untuk menjaga suara dari konstituen Partai Buruh yang mendukung Inggris meninggalkan Uni Eropa.

Kebijakan Corbyn ini dinilai justru akan mengorbankan jumlah kursi Partai Buruh di parlemen pada pemilihan umum daerah bulan ini, di mana jumlah suara pro dan anti Brexit akan berkurang secara bersamaan.

"Ada kekhawatiran di daerah pro Brexit tentang apakah beberapa pemilih kita mungkin akan memilih partai lain, tapi kekhawatiran yang sesungguhnya adalah jika kita kehilangan dukungan dari dalam partai," kata Kepala juru bicara Partai Buruh untuk urusan Brexit, Keir Starmer dalam wawancara dengan Guardian seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (14/5/2019).

Di tengah kebuntuan soal Brexit, kedua partai besar Inggris ini ternyata sama-sama menderita dalam pemilihan terakhir. Menyusul penampilannya yang buruk dalam pemilihan lokal, Partai Konservatif harus menghadapai tantangan lain dalam pemilihan di Parlemen Eropa pada 23 Mei.

Menurut survei Opinium untuk surat kabar Observer, Partai Brexit, yang didirikan Nigel Farage pada bulan lalu diprediksi akan meraup 34 persen suara, dibandingkan dengan hanya 11 persen untuk Konservatif dan 21 persen untuk Partai Buruh.

Prediksi tersebut setidaknya dapat mewakili kegusaran May yang ingin mempercepat Brexit sebelum Juli, agar Inggris tidak perlu terlibat dalam pemilihan Parlemen Eropa dan menghindari peralihan proses Brexit ke anggota parlemen yang baru.

Dalam beberapa hari mendatang, pemerintah akan mengeksplorasi dengan Uni Eropa kapan pembicaraan dapat dibuka kembali untuk membuat perubahan pada deklarasi politik terkait hubungan Inggris dengan blok ekonomi tersebut di masa depan.

Kesempatan ini akan digunakan untuk membahas kemungkinan revisi pada isi kesepakatan merujuk pada hasil pertemuan lintas partai yang dilakukan tim Theresa May dengan Partai Buruh, khususnya tentang pengaturan bea cukai, perlindungan lingkungan, dan hak-hak pekerja.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Brexit

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top