Pertumbuhan Ekonomi 2019 Bisa Sentuh 5%

Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini diperkirakan akan lebih baik dari prediksi awal. Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dari 4,9 persen menjadi 5 persen.
Tegar Arief
Tegar Arief - Bisnis.com 09 Mei 2019  |  10:48 WIB
Pertumbuhan Ekonomi 2019 Bisa Sentuh 5%
/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini diperkirakan akan lebih baik dari prediksi awal. Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dari 4,9 persen menjadi 5 persen.

Dia menjelaskan, belanja konsumsi rumah tangga yang cenderung meningkat dan belanja pemerintah yang naik cukup besar menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

Observasi terhadap dinamika konsumsi masyarakat mengarah pada faktor consumption multiplier Indonesia yang agak unik, karena terkesan sangat stabil selama beberapa tahun terakhir.

Padahal consumption multiplier biasanya bergerak naik turun dalam jangka 12-24 bulan. Stabilnya multiplier konsumsi inilah yang berperan dalam angka pertumbuhan konsumsi masyarakat yang stabil di kisaran 5 persen yoy.

"Dengan mengacu pada besaran multiplier konsumsi masyarakat, besaran defisit APBN, defisit neraca pembayaran, kami sekarang merevisi ke atas laju pertumbuhan ekonomi di 2019 dari 4,9 persen menjadi 5 persen," kata dia dalam riset yang dipublikasikan, Kamis (9/5/2019).

Dia menambahkan, pertumbuhan indeks penjualan ritel pada kuartal I/2019 terlihat lebih baik dibandingkan ekspektasi. Peningkatan terutama terjadi pada kelompok barang makanan, rokok, bahan bakar, dan peralatan rumah tangga.

Namun menurutnya data impor barang konsumsi yang merosot berpotensi menahan laju konsumsi rumah tangga. Pada kuartal I/2019 impor barang konsumsi senilai US$ 3,4 miliar, kontraksi sebesar 14,3 persen secara yoy.

"Dinamika ini membawa kami pada prediksi pertumbuhan belanja rumah tangga riil yang mungkin bisa mencapai 5,0 persen yoy pada kuartal I/2019, alias sedikit lebih tinggi dibandingkan 4,94 persen pada kuartal I/2018," imbuhnya.

Sementara itu, belanja pemerintah pada kuartal I/2019 mencapai Rp452 triliun, naik sekitar 29 persen dari periode yang sama tahun lalu. Pada kuartal I/2018 pertumbuhan belanja hanya sebesar 4,9 persen yoy, yang bila ditransalasi kepada komponen pengeluaran pemerintah dalam PDB, menjadi sebesar 2,69 persen yoy.

"Belanja pemerintah pada 2019 kami perkirakan akan naik sebagai akibat dari realokasi anggaran lebih banyak ke sisi belanja rutin ketimbang sisi belanja pembangunan," sambungnya.

Kata Adrian, tren pertumbuhan komponen investasi dalam PDB cenderung menurun, yang terlihat menjelang pemilihan presiden. Pertumbuhan investasi dalam PDB turun dari puncaknya pada kuartal I/2018 (7,94 persen yoy) menjadi 6,01 persen yoy (kuartal IV/2018).

Penjualan kendaraan bermotor pada kuartal I/2019 misalnya yang menurun dibandingkan kuartal I/2018, dan realisasi investasi baik modal dalam negeri maupun modal asing yang tumbuh lebih lambat.

Hal ini terjadi akibat merosotnya realisasi pertumbuhan PMA. Menurutnya, seluruh faktor itu memperkuat dugaan bahwa pertumbuhan komponen investasi dalam PDB akan menurun.

"Fakta ini membawa kami pada perkiraan pertumbuhan belanja investasi riil sebesar 5,50 persen yoy di sepanjang 2019," ujarnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top