HMS: Pangsa Rokok Murah Tar Tinggi Menggeliat

PT HM Sampoerna Tbk. melihat terdapat kenaikan pangsa pasar terhadap produk sigaret kretek mesin (SKM) dengan kandungan tar tinggi. Maka dari itu, perseroan akan fokus mengembangkan segmen tersebut.
Andi M. Arief | 09 Mei 2019 21:00 WIB
Penjual melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA -- PT HM Sampoerna Tbk. melihat terdapat kenaikan pangsa pasar terhadap produk sigaret kretek mesin (SKM) dengan kandungan tar tinggi. Maka dari itu, perseroan akan fokus mengembangkan segmen tersebut.

Direktur Utama Sampoerna Mindaugas Trumpaitis mengatakan, pangsa pasar produk SKM Tar Tinggi naik menjadi 4,7% pada tahun lalu dari realisasi tahun sebelumnya di level 3,9%. Sementara itu, pangsa pasar SKM Tar Rendah stabil di posisi 18,8%.

"Kami melihat trend konsumen mengarah ke produk dengan nilai yang tinggi dengan harga yang lebih murah. Interpretasi kami adalah konsumen mencari produk dengan sensasi yang tinggi dengan biaya yang lebih rendah," paparnya dalam Publik Expose perseroan, Kamis (9/5/2019).

Melihat perkembangan tersebut, ujarnya, perseroan meluncurkan varian SKM Tar Tinggi baru yakni Phillip Morris Bold. Adapun, untuk menjaga angsa pasar SKM Tar Rendah, perseroan mengeluarkan varian A Mild Splash dan menambah kuantitas per bungkus Magnum Mild hingga 50 batang per bungkus.

Mindaugas mengklaim pemasaran Phillip Morris Bold diterima baik oleh konsumen. Selain itu, lanjutnya, Magnum Mild telah menjadi produk dengan pangsa pasar terbesar di varian SKM Tar Rendah Menurutnya, pasar SKM Tar Tinggi dapat naik hingga tiga kali lipat. "Kami sangat optimis pada segmen ke bawah."

Mindaugas mengutarakan perseroan akan mengucurkan biaya senilai Rp1 triliun untuk peningkatan dan perbaikan mesin di pabrik-panrim perseroan.

Akan tetapi, Mindaugas berujar perseroan melihat adanya penurunan dalam produksi rokok sejak 2015. Pada akhir tahun lalu, lanjutnya, produksi rokok perseroan pada tahun lalu tercatat naik tipis 0,09% menjadi 101,4 miliar batang setelah pada tahun sebelumnya turun 4,13% menjadi 101,3 miliar batang.

Direktur Keuangan Sampoerna William Reilly Giff menjelaskan penurunan produksi tersebut disebabkan oleh kenaikan cukai pada 2016 dan 2017 masing masing sebesar 15% dan 17%. Menurutnya, keterjangkauan harga produk menjadi isu yang penting pada masa mendatang.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Rokok

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup