Penggunaan Precast, Pengembang Tunggu Harga Lebih Murah

Kendati pembangunannya jauh lebih cepat, biaya yang dikeluarkan untuk membangun dengan precast bisa lebih tinggi sekitar 5 persen-10 persen.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 08 Mei 2019  |  07:05 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pembangunan properti menggunakan teknologi pracetak atau precast tak kunjung menjadi tren pada pembangunan properti di Indonesia. Padahal, dengan teknologi ini, pengembang bisa banyak berhemat.

Assistant Vice President Marketing Agung Podomoro Land Tbk. Alvin Andronicus mengatakan bahwa pihaknya sangat berharap industri precast bisa berkembang, sehingga lebih banyak perusahaan yang menyediakan layanan untuk membangun dengan teknologi tersebut.

“Pembangunan menggunakan teknologi precast ini tentunya bisa lebih cepat, bahkan jadi jauh lebih cepat. Jadi di lapangan bisa misalnya bangun fondasinya, di saat yang sama di pabrik bisa bikin isi bangunannya. Kemudian, dari segi keamanan, precast itu kita tahu bisa tahan gempa, lebih kokoh,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (7/5/2019).

Saat ini, ungkap Alvin, pembangunan menggunakan teknologi ini masih berfokus pada pembangunan properti kelas menengah hingga menengah bawah untuk hunian vertikal. Apabila industrinya semakin berkembang, diharapkan pembangunan semua sektor bisa dibangun menggunakan teknologi precast.

“Sekarang yang jadi kendala tinggal pasoknya saja. Karena dari Podomoro sudah lama pakai, hampir semua pembangunan terbarunya sudah pakai teknologi itu, jadi kami sudah sangat merasakan keuntungannya,” katanya.

Selanjutnya, dengan lebih banyak industri precast, imbuh Alvin, akan lebih memadai untuk membangun dengan model yang lebih banyak. Hal ini bisa bermanfaat untuk memacu pembangunan rumah tapak, mengingat sektor perumahan itulah yang masih mendapat minat paling banyak dari para pencari rumah.

“Dengan biaya operasional yang rendah, diharapkan nantinya masih memadai dengan harga yang ditetapkan untuk rumah-rumah tapak dengan harga terjangkau, dengan skema-skema pembiayaan yang ada,” kata Alvin.

Direktur PT Metropolitan Land Tbk (Metland) Olivia Surodjo mengatakan bahwa yang menjadi hambatan Metland dalam mengadopsi penggunaan teknologi precast adalah dari sisi biaya yang memang lebih tinggi.

“Untuk saat ini kami belum ingin pakai teknologi itu, tapi ke depan kami tidak menutup kemungkinan,” ujarnya.

Kendati pembangunannya jauh lebih cepat, biaya yang dikeluarkan untuk membangun dengan precast bisa lebih tinggi sekitar 5 persen-10 persen. Selain itu, Olivia menyebutkan bahwa untuk mengadopsi teknologi tersebut pihaknya perlu melakukan training khusus juga pada tim pembangunan proyeknya karena sistemnya yang pasti berbeda.

“Itu yang jadi concern utama kami kalau harus mulai pembangunan dengan teknologi itu. Untuk memulai kan harus kita hitung dulu cost and benefit-nya,” kata Olivia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Beton Pracetak

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top