Penggunaan Teknologi Precast Perlu Didukung Regulasi

Ke depan diharapkan akan ada regulasi khusus dari pemerintah untuk melakukan pembangunan menggunakan teknologi precast.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 08 Mei 2019  |  06:52 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Penggunaan teknologi pra cetak atau precast dalam pengembangan properti di Indonesia belum menjadi pilihan utama. Padahal penggunaan teknologi tersebut bisa membantu mempercepat pembangunan hingga 30 persen-40 persen.

Direktur Human Capital, Investasi, dan Pengembangan Wijaya Karya Gedung (WEGE) Nur Al Fata mengatakan, di negara lain seperti Inggris dan Singapura, sudah lebih dari 50 persen bangunannya sudah menggunakan teknologi tersebut.

“Di beberapa negara maju itu pembangunan dengan teknologi precast atau off site construction sudah ada peraturannya dan cukup lengkap. Di Inggris itu diutamakan kareba pengerjaan pembangunan di pabrik itu sebenarnya lebih terukur, dari segi mutu, waktu, biaya, grade, dan keamanannya,” ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (7/5/2019).

Menurutnya, pembangunan menggunakan teknologi precast penting di kemudian hari karena bisa membantu mempercepat pembangunan agar bisa mengisi backlog yang jumlahnya terus bertambah tiap tahun.

“Kami dari Wijaya Karya sebagai holding perumahan diarahkan untuk pengadaan rumah. Untuk itu, kami pembangunannya sudah mengandalkan teknologi ini. Jadi semua bagunan standarnya sama, ukurannya sama, cuma lokasi saja yang beda, ini sudah kami mulai,” lanjutnya.

Wika Realty, katanya, juga berencana akan mengembangkan rumah untuk aparatur sipil negara (ASN) dan Tentara Nasional Indonesia di BSD sebanyak 10 menara dengan menggunakan teknologi precast.

Selain bisa digunakan untuk mengembangkan hunian bagi seluruh masyarakat. Potensi selanjutnya untuk penggunaan teknologi precast adalah dari pasar properti yang memiliki rentang panjang seperti di showroom, maupun kawasan industri seperti gudang moderen.

Dilihat dari sisi biaya, yang selama ini menjadi kendala pengembang untuk mengadopsi teknologi ini, menurut Nur memang akan lebih mahal sekitar 5 persen-10 persen tergantung dengan modelnya.

“Tapi kita harus lihat secara keseluruhan, harus lihat life cycle cost-nya. Kalau orang yang biasa bekerja atau investasi di properti, dia akan diuntungkan sekali dari segi waktu karena pembangunannya bisa lebih cepat hingga 40 persen. Nah nilai karena pembangunan lebih cepat itulah yang jadi keuntungan bagi pengembang maupun investor,” tuturnya.

Dengan semakin cepatnya pembangunan, kata Nur, nantinya bisa membantu menghemat biaya operasional. Adapun, dengan kualitas yang sudah terjamin, membuat biaya perawatan gedung juga akan lebih hemat.

Nur mengharapkan ke depan akan ada regulasi khusus dari pemerintah untuk melakukan pembangunan menggunakan teknologi precast. Pasalnya, selain bisa digunakan untuk membangun properti vertikal, tetap memungkinkan untuk membantu mempercepat pembangunan hunian tapak secara masal.

“Kalau yang precast ini kan dari beton ya, di heavy weight, jadi lebih sebenarnya lebih cocok untuk yang vertikal, tapi tidak menutup kemungkinan ya ini untuk dijadikan material substitusi pembangunan hunian tapak.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Beton Pracetak

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top