Ekonomi Korsel Suram, Tingkat Dukungan Presiden Moon Jae-in Merosot

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in telah mempertaruhkan kepresidenannya dalam menangani dua tantangan besar, Korea Utara dan ekonomi Korsel. Kedua hal ini terbukti menjadi tantangan yang sangat berat.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 26 April 2019  |  11:06 WIB
Ekonomi Korsel Suram, Tingkat Dukungan Presiden Moon Jae-in Merosot
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Korea Selatan Moon Jae-in telah mempertaruhkan kepresidenannya dalam menangani dua tantangan besar, Korea Utara dan ekonomi Korsel. Kedua hal ini terbukti menjadi tantangan yang sangat berat.

Produk Domestik Bruto (PDB) Korsel tak terduga berkontraksi 0,3 persen pada kuartal I/2019, penurunan terbesar dalam satu dekade.

PDB Korsel menyusut 0,3 persen pada kuartal pertama dari kuartal sebelumnya. Raihan ini meleset jauh dari estimasi median para ekonom untuk kenaikan 0,3 persen. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ekonomi Korsel tumbuh 1,8 persen, lebih kecil dari proyeksi untuk ekspansi 2,4 persen.

Pukulan itu dialami hanya dua hari sebelum Moon Jae-in diperkirakan akan memperingati tahun pertama KTT bersejarahnya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, sebagaimana diberitakan Bloomberg.

“Tak hanya data ekonomi dewasa ini, data terbaru menunjukkan bahwa perekonomian berkinerja lebih buruk dari yang diperkirakan. Ini tidak akan menjadi lebih mudah. Ini adalah situasi yang sangat memberatkan bagi pemerintahan Moon Jae-in,” ujar Park Sangin, seorang profesor di Seoul National University.

Masalah-masalah struktural ekonomi, termasuk perlambatan di China dan melemahnya permintaan global untuk semikonduktor, akan menghadirkan masalah pada pemimpin Korea Selatan mana pun.

Selain harus menghadapi permasalahan ekonomi, Moon Jae-in terperangkap dalam perannya sebagai mediator pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk berunding dan berhenti saling mengancam.

Dorongan upaya perdamaian untuk kedua belah pihak itu membantu mengimbangi efek kemunduran ekonomi Korsel, dengan mendorong tingkat dukungan bagi Moon menjadi 83 persen setelah sukses mencatat peristiwa bersejarah pada 27 April 2018 melalui pertemuannya dengan Kim Jong-un di perbatasan militer mereka.

Namun, dukungan untuk Moon kemudian merosot ketika pembicaraan nuklir antara AS dan Korea Utara gagal mencapai kesepakatan pada Februari 2019.

Pada Jumat (26/4/2019), tingkat dukungannya merosot menjadi 44 persen dari 48 persen sepekan sebelumnya, menurut periset Gallup Korea. Sementara itu, tingkat penolakan untuknya naik menjadi 47 persen dari 42 persen.

Lebih dari sepertiga jumlah responden yang tidak puas dengan kinerja Moon menyebutkan kurangnya kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan ekonomi dan mata pencaharian masyarakat.

Survei yang sama juga menunjukkan sekitar 16 persen melihat fokus Moon yang "berlebihan" pada peningkatan hubungan dengan Korea Utara.

Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk walk out dari pertemuannya dengan Kim tanpa kesepakatan pada 28 Februari menambah kritik untuk Moon, terutama dari partai oposisi, Liberty Korea Party.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Ekonomi Korsel

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup