Penghapusan GSP India Picu Biaya Konsumen bagi AS

Rencana Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri impor bebas bea preferensial hingga US$5,6 miliar untuk India dinilai berdampak pada peningkatan biaya bagi konsumen di Amerika.
M. Richard | 14 April 2019 05:45 WIB
Bendera India - Cultural India

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri impor bebas bea preferensial hingga US$5,6 miliar untuk India dinilai berdampak pada peningkatan biaya bagi konsumen di Amerika.

Hal tersenut dikatakan oleh dua senator AS. Mereka mendesak penundaan dalam mengadopsi rencana tersebut, dan mencari negosiasi lebih lanjut. 

Mereka mengkhawatirkan rencana untuk mengakhiri Generalized System of Preferences (GSP) untuk India berpotensi meningkatkan prospek tarif pembalasan dari negara India.

Adapun, india adalah penerima manfaat GSP terbesar di dunia, yang berasal dari tahun 1970-an, tetapi hubungan perdagangan dengan AS telah meluas atas apa yang disebut Trump sebagai tarif tinggi dan kekhawatiran terhadap kebijakan e-commerce New Delhi.

"Meskipun kami sepakat bahwa ada sejumlah masalah akses pasar yang dapat dan harus diatasi, kami tetap khawatir bahwa penarikan konsesi bea akan membuat ekspor produk yang memenuhi syarat ke Amerika Serikat lebih mahal," kata senator John Cornyn dan Mark Warner seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (13/4/2019).

"Beberapa biaya ini kemungkinan akan diteruskan ke konsumen Amerika," lanjutnya.

Di sisi lain, dia menjelaskan jika Amerika Serikat membatalkan akses bebas bea untuk sekitar 2.000 lini produk, yang sebagian besar hanya pelaku bisnis kecil dan menengah di India, seperti pembuat barang-barang teknik.

Cornyn mengatakan meski memiliki ikatan politik yang erat, perdagangan antara India dan Amerika Serikat hanya mencapai US$126 miliar pada tahun 2017, atau seperempat dari potensi seharusnya.

Adapun, hubungan perdagangan terpuruk dalam beberapa bulan terakhir setelah India mengadopsi aturan baru tentang e-commerce yang mengekang bagaimana perusahaan seperti Amazon.com Inc dan Flipkart yang didukung Walmart Inc menjalankan bisnis. Juni lalu, India berencana untuk meningkatkan bea masuk bervariasi dari 20% menjadi 120% karena banyak produk pertanian, baja dan besi.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi amerika serikat, ekonomi india

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup