Ekonomi Melambat, Bank Sentral Singapura Pertahankan Kebijakan Moneter

Bank Sentral Singapura memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneternya di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang tetap rendah.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 12 April 2019  |  08:55 WIB
Ekonomi Melambat, Bank Sentral Singapura Pertahankan Kebijakan Moneter
Suasana di salah satu manufaktur yang ada di Singapura. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Sentral Singapura memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneternya di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang tetap rendah.

Setelah melakukan pengetatan kebijakan sebanyak dua kali tahun lalu, Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) hari ini, Jumat (12/4/2019), mempertahankan slope dan lebar rentang nilai tukar mata uang dolar Singapura, serta levelnya berpusat.

Melalui laman resminya, MAS menyatakan kebijakan ini konsisten dengan jalur apresiasi yang moderat dan bertahap dari rentang nilai tukar mata uangnya.

MAS memang menggunakan nilai tukar sebagai alat kebijakan moneter utamanya alih-alih suku bunga. Otoritas ini diketahui mengelola kebijakan moneternya dengan mengendalikan nilai tukar dolar Singapura terhadap sekumpulan mata uang negara mitra dagang utamanya.

MAS juga menyesuaikan laju naik maupun turun mata uangnya terhadap mata uang negara-negara tersebut dengan mengubah slope, lebar, dan titik tengah kisaran rentang nilai tukarnya.

Sebanyak 20 dari 22 ekonom dalam survei Bloomberg telah memperkirakan langkah MAS mempertahankan kebijakannya. Hanya dua ekonom yang memprediksikan pengetatan.

“Pertumbuhan ekonomi Singapura telah mereda. Meskipun ada kenaikan dalam biaya tenaga kerja, tekanan inflasi kecil dan harus tetap terkendali,” terang MAS, seperti dikutip Bloomberg.

Menyusul keputusan tersebut, nilai tukar dolar Singapura pun melemah 0,1% ke level S$1,3575 terhadap dolar AS pada pukul 8.25 pagi ini waktu setempat.

Dipimpin oleh Bank Sentral AS Federal Reserve, bank-bank sentral di seluruh dunia telah mengambil langkah menuju kebijakan yang lebih dovish pada tahun 2019.

Proyeksi pertumbuhan dunia telah berulang kali diturunkan, karena ketegangan perdagangan AS-Tiongkok yang tak kunjung terselesaikan dan menyurutnya permintaan dari China.

Pada Selasa (9/4/2019), Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan mengatakan bahwa penurunan tajam dapat mengharuskan para pemimpin dunia untuk mengoordinasikan langkah-langkah stimulus.

Pertumbuhan Melambat

Sementara itu, pemerintah Singapura memproyeksikan pertumbuhan ekonominya, yang bergantung pada ekspor, akan melambat menjadi tepat di bawah titik tengah kisaran 1,5% hingga 3,5% setelah melaju 3,2% pada 2018.

Sebuah laporan terpisah yang dirilis Jumat (12/4) menunjukkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 1,3% pada kuartal pertama dari setahun sebelumnya, dan naik 2% dari kuartal sebelumnya atau lebih rendah dari proyeksi para ekonom.

"Ekonomi Singapura telah melambat, dan kemungkinan akan berkembang dengan laju moderat pada kuartal-kuartal mendatang. Laju pertumbuhan akan sedikit di bawah potensinya tahun ini, setelah dua tahun berada di atas tren,” terang MAS dalam pernyataannya.

Prospek inflasi yang rendah juga memberi ruang bagi pembuat kebijakan untuk menunda langkah pengetatan. Harga konsumen naik 0,5% pada Februari dari setahun sebelumnya dan mencatat sedikit kenaikan dari 0,4% pada bulan sebelumnya.

MAS menurunkan kisaran proyeksi inflasi intinya untuk tahun ini menjadi 1%-2% dari 1,5%-2,5% sebelumnya, sebagian besar karena penurunan biaya listrik. Pada Februari, MAS menurunkan proyeksi inflasi headline menjadi 0,5%-1,5%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi singapura

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top