Tarif Kargo Pesawat Melejit, Eksportir Kepiting Menjerit

Ternyata tarif kargo pesawat dari Dobo, Kepulauan Aru, ke Ambon lebih mahal dibandingkan dengan dari Ambon ke Jakarta.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 05 April 2019  |  10:04 WIB
Tarif Kargo Pesawat Melejit, Eksportir Kepiting Menjerit
Ilustrasi - Pedagang menjual kepiting bakau jenis Scylla serrata dan Kelapa di Lhokseumawe, Aceh, Senin (17/9/2018). - ANTARA/Rahmad

Bisnis.com, AMBON - Sejumlah eksportir kepiting bakau hidup mulai mengeluhkan mahalnya tarif kargo pesawat dari Dobo, Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Aru, ke Bandara Internasional Pattimura Ambon, Maluku,  selanjutnya ke Singapura dan Malaysia yang transit di Jakarta.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Maluku Elvis Pattiselano ketika dimintai konfirmasi di Ambon, membenarkan keluhan eksportir kepiting bakau hidup itu karena tarif kargo pesawat dari Bandara Rar Gwamar, Dobo, ke Bandara Internasional Pattimura Ambon relatif mahal.

Kendati tidak dirinci tarif kargo pesawatnya, dia menyatakan bahwa ternyata tarif kargo pesawat dari Dobo ke Ambon lebih mahal dari Ambon ke Jakarta.

"Saya sebenarnya sebelum Gubernur Maluku Said Assagaff mengakhiri masa jabatan pada 10 Maret 2019 telah berkoordinasi dan menyurati Kementerian Perhubungan, termasuk maskapai Wings Air yang melayani penerbangan Dobo--Ambon pergi pulang(pp) maupun Garuda Indonesia," ujar Elvis, Jumat (5/4/2019).

Dia mengakui, mahalnya tarif kargo pesawat Wings Air dari Dobo ke Ambon mengakibatkan pemasokan kepiting bakau hidup tersebut pernah dua kali memanfaatkan jasa penerbangan herkules.

"Kami dari tim peningkatan ekspor Maluku berusaha memfasiitasi eksportir, baik kepiting bakau hidup maupun tuna ke sejumlah negara karena strategis bagi pengembangan perekonomian daerah ini," kata Elvis.

Disinggung kegiatan ekspor kepiting, dia menjelaskan, pada 2 April 2019 diekspor tiga ton ke Singapura dan Malaysia.

Ekspor perdana pada 12 Januari 2019 oleh eksportir UD.Putri Desi sebanyak 1,1 ton dan 25 Januari 2019 mencapai lima ton dengan tujuan pangsa pasar Singapura dan Malaysia. Pada 6 Maret 2019 dilakukan dua kali ekspor yakni pagi hari sebanyak 2,01 ton dan sorenya 1,07 ton.

Elvis mengemukakan, ekspor langsung kepiting bakau hidup yang tidak melalui lagi Makassar atau Surabaya strategis bagi pengembangan perekonomian Maluku.

"Maluku sebelumnya dirugikan dengan sejumlah komoditas yang dipasok ke Surabaya, selanjutnya baru diekspor sehingga tidak memiliki nama dilabel barang," ujar Elvis.

Dia mengakui, para konsumen dari China sebenarnya berminat juga terhadap kepiting bakau hidup Maluku, tetapi eksportir UD Putri Desi masih membenahi sejumlah dokumen.

"Pastinya, pasar ekspor saat ini menjanjikan untuk kepiting bakau Maluku sehingga tinggal Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis membina para nelayan di Kabupaten Kepulauan Aru maupun lainnya memanfaatkan peluang usaha untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) maupun kesejahteraan masyarakat pesisir," kata Elvis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kargo, eksportir, kepiting

Sumber : Antara

Editor : Yusuf Waluyo Jati
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top