Industri Emas dan Perhiasan Akan Dorong Ekspor

Industri olahan emas nasional optimistis dapat membukukan pertumbuhan nilai pada tahun ini. Salah satu pendorongnya adalah peningkatan ekspor dengan mengedepankan desain pengrajin emas lokal di pasar global.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 04 April 2019  |  20:35 WIB
Industri Emas dan Perhiasan Akan Dorong Ekspor
Perhiasan emas. - Bloomberg/Billy H.C. Kwok

Bisnis.com, JAKARTA –  Industri olahan emas nasional optimistis dapat membukukan pertumbuhan nilai pada tahun ini. Salah satu pendorongnya adalah peningkatan ekspor dengan mengedepankan desain pengrajin emas lokal di pasar global.

Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (Apepi) menyatakan industri pengolahan emas akan mengikuti proyeksi pertumbuhan pasar emas global atau sekitar 4 hingga 5 persen pada tahun ini. Asosiasi menilai kebutuhan pasar ekspor akan sebanding dengan konsumsi emas domestik.

Ketua Apepi Jeffry Thumewa mengatakan komposisi produksi di dalam negeri untuk kebutuhan ekspor mencapai 50 persen. Selain itu, asosiasi bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) agar produksi emas dan perhiasan dapat diserap di luar negeri agar mendorong pertumbuhan industri.

“Warisan budaya Nusantara sangat tinggi dia punya seni, sehingga ketika kami menjadikan itu jewelry terkesannya itu unik, beda dengan yang lain. Sehingga, [produk dalam negeri] bisa terserap di pasar [global],” ujar Jeffry kepada Bisnis, Kamis (4/4/2019).

Di sisi lain, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin Gati Wibawaningsih menyampaikan produksi emas dan perhiasan berkontribusi sekitar 4,3 persen dari pasar emas dan perhiasan global atau menduduki peringkat 9 dunia. 

Gati menambahkan walaupun nilai ekspor emas dan perhiasan tercatat turun 24,07% pada akhir tahun lalu nilai ekspor emas dan perhiasan masih sekitar US$2,05 miliar. Penurunan tersebut, imbuhnya, merupakan dampak dari penurunan ekonomi global pada tahun lalu yang tertransmisikan ke penurunan daya beli. 

Menurut Gati ada dua tantangan bagi industri emas dan perhiasan di dalam negeri untuk tumbuh pada tahun ini yaitu ketersediaan bahan baku dan promosi.

Gati mengemukakan para pengrajin di dalam negeri masih bergantung kepada impor untuk mendapatkan bahan baku atau sebesar 40 persen. 

“Paling banyak bahan baku emas, kemudian permata. Berlian belum punya [sumbernya di dalam negeri], jadi kita impor, [Lalu,] zamrud dan rubi tidak punya [juga]. Nah, ini harus diimpor bahan bakunya. Kalau semua kena bea masuk agak repot,” papar Gati.

Gati melanjutkan pihaknya akan terus menjaga impor bahan baku industri emas dan perhiasan pada tahun ini. Kementerian melihat impor dan bea masuk menyebabkan produk emas dan perhiasan lokal kurang kompetitif di pasar global.

Gati berujar pengrajin dalam negeri mayoritas mengimpor bahan baku dari Singapura yang mengumpulkan emas dari penjuru dunia. 

Di sisi lain, Gati menguraikan promosi bagi industri emas dan perhiasan menjadi kunci. Hal tersebut disebabkan penjualan emas dan perhiasan yang sulit dijual secara daring. 

“Apepi ini kan bikin pameran ini [Jakarta Internasional Jewellery Fair/JIJF 2019] tidak gampang. Keamanan di Jakarta cuma di sini [Jakarta Convention Center] dan satu tempat lagi. Kalau Apepi sih mampu saja bikin pameran beberapa kali [kalau semua tempat aman],” kata Gati.

Gati optimistis nilai transaksi pada JIJF tahun ini dapat meningkat 25% dari realisasi nilai transaksi JIJF tahun lalu. Namun Gati tidak memaparkan nilai transaksi emas dan perhiasan tahun lalu pada JIJF. 
Optimisme tersebut, lanjutnya, karena pengunjung JIJF 2019 juga berasal dari luar negeri.

Menurut Gati dengan membaiknya pasar dunia, penjualan ekspor pada tahun ini juga akan meningkat melalui pameran tersebut. 

Kemenperin mencatat 93,02% dari total ekspor emas dan perhiasan nasional diserap oleh Singapura, Swiss, Hong Kong, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab.

Di samping itu, Kemenperin menilai usulan penurunan bea masuk produk emas dan perhiasan lokal ke Uni Emirat Arab akan menggenjot daya saing dan nilai tambah produksi domestik di pasar global.

Di sisi lain Gati berpendapat jika pemerintah terus mendorong, industri emas dan perhiasan akan semakin bagus mengingat pengrajin emas dan perhiasan telah masuk revolusi industri4.0, khususnya di Bandung dan Surabaya.

Gati menjelaskan industri emas dan perhiasan nasional telah menerapkan mesin untuk mengukir desain yang diinginkan para pengrajin.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emas, perhiasan

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top