Ekspor Makanan Minuman : Semangat Asean Perlu Diinisiasi Lagi

Di saat sejumlah sentimen negatif pasar global masih menghantui, kinerja ekspor industri makanan dan minuman Indonesia diproyeksikan bangkit dengan proyeksi pertumbuhan 10% pada tahun ini menjadi US$31,9 juta. Pemerintah dinilai perlu menginisiasi lagi semangat Asean.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 28 Maret 2019  |  09:30 WIB
Ekspor Makanan Minuman : Semangat Asean Perlu Diinisiasi Lagi
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Presiden Direktur Mayora Group Andre Atmaja melakukan penguncian kontainer pada acara Pelepasan Kontainer Ekspor ke 250.000 ke Filipina, di Bitung, Tangerang, Banten, Senin (18/2/2019). - ANTARA/Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA - Di saat sejumlah sentimen negatif pasar global masih menghantui, kinerja ekspor industri makanan dan minuman Indonesia diproyeksikan bangkit dengan proyeksi pertumbuhan 10% pada tahun ini menjadi US$31,9 juta. Pemerintah dinilai perlu menginisiasi lagi semangat Asean.

Adhi S. Lukman, Ketua Umum Gapmmi, mengatakan bahwa pemerintah perlu menginisasi kembali semangat Asean karena salah satu anggota, yaitu Filipina, tiba-tiba mengenakan special safeguard sekitar 15% terhadap produk kopi dan olahan kopi dari Indonesia. Nilai ekspor produk tersebut mencapai US$600 juta per tahun.

Pengenaan special safeguard tersebut dinilai mencederai semangat pasar bebas Asean. "Saat ini sedang dilakukan perundingan dengan Pemerintah Filipina terkait safeguard, kalau perundingan ini gagal, bisa pengaruh ke ekspor mamin olahan," ujar Adhi, Rabu (27/3/2019).

Sejak awal, industri makanan dan minuman nasional diyakini menjadi sektor yang terkuat dalam menghadapi pasar bebas Asean, karena didukung dengan sumber daya alam yang potensial.

Sebelumnya Regional Managing Director Mayora Indah, Maspiyono mengatakan bahwa perseroan terus memperkuat penetrasi di negara-negara Asia Tenggara. Namun, dia menggarisbawahi saat ini beberapa negara tujuan ekspor sedang mengevaluasi regulasi-regulasi yang menghambat msuknya produk mamin negara lain ke negara tersebut.

“Sekarang ini mulai ada potensi hambatan non-tariff barrier,” kata Maspiyono, Selasa (8/1/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri makanan dan minuman, Ekspor Manufaktur

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top