Kebijakan Bagasi Berbayar Mulai Rontokkan Usaha Kecil

Apindo Pontianak menyatakan kebijakan bagasi berbayar yang diterapakan maskapai penerbangan sudah mulai berdampak pada penurunan penjualan oleh-oleh dan lainnya yang dihasilkan UMKM.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 20 Maret 2019  |  13:21 WIB
Kebijakan Bagasi Berbayar Mulai Rontokkan Usaha Kecil
Ilustrasi - Petugas mendata barang pemudik sebelum di masukkan ke bagasi pesawat di Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (13/6/2018)./ANTARA FOTO - Umarul Faruq

Bisnis.com, PONTIANAK - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Pontianak, Andreas Acui Simanjaya mengatakan kebijakan bagasi berbayar yang diterapakan maskapai penerbangan sudah mulai berdampak pada penurunan penjualan oleh-oleh dan lainnya yang dihasilkan UMKM.

"Kebijakan bagasi pesawat berbayar menghasilkan dampak yang merugikan pertumbuhan ekonomi di daerah. Hal ini terindikasi dari menurunnya omzet penjualan oleh-oleh di Pontianak yang kian menyusut hanya tinggal 30 persen saja,"ujarnya di Pontianak, Rabu (20/3/2019).

Dia menjelaskan bahwa fenomena tersebut terlihat dari pekerja bagian kemasan produk oleh-oleh yang biasanya berjumlah puluhan orang dan bekerja dengan kapasitas penuh kini lebih banyak duduk menunggu pesanan pengemasan.

"Penjual oleh-oleh  di Kota Pontianak  seputar PSP, depan Kaisar dan sepanjang Jalan Gajah Mada mengaku bisnis mereka  berangsur lesu sejak diterapkannya bagasi pesawat berbayar," katanya.

Menurutnya, kondisi ini berdampak juga pada pelaku UMKM yang mengandalkan toko penjual oleh oleh sebagai outlet utamanya. Penurunan permintaan hasil produksi UMKM mengakibatkan berkurangnya penyerapan bahan baku yang biasanya dipakai misalnya produk pertanian dan nelayan.

"Tentunya hal ini membawa dampak serius pada kesejahteraan masyarakat Kalbar secara umum. Sebab penurunan penghasilan suatu kelompok akan menurunkan juga daya beli pada sektor lain, sehingga seluruh jaringan dan sistem ekonomi bisa terpengaruh," jelas dia.

Penolakan untuk diberi oleh-oleh juga dilakukan oleh orang-orang yang biasanya dibelikan oleh koleganya. Sebab, pemberian oleh-oleh pada akhirnya menghadirkan kewajiban membayar bagasi di pesawat.

Dia berharap pemerintah bisa segera menyelesaikan hal-hal yang berdampak negatif bagi masyarakat dengan regulasi yang tepat guna.

"Seharusnya maskapai penerbangan juga berfungsi sebagai faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi suatu daerah dengan memberikan beberapa kemudahan melalui kebijakan perusahaan penerbangan," jelasnya.

Misalnya, maskapai berfungsi sebagai cargo cepat untuk komoditas yang dihasilkan di Kalbar. Sehingga bisa dipasarkan ke daerah lain dalam keadaan yang segar dan bermutu baik.

"Contoh durian Medan bisa terkenal di Jakarta karena dukungan maskapai penerbangan juga. Kembali, saya berharap kebijakan bagasi berbayar ini ditinjau kembali," kata dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
penerbangan, umkm, bagasi

Sumber : Antara

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top