Batu Bara Kalori Rendah Mulai Menggeliat

Mulai meningkatnya permintaan atas batu bara kalori rendah membuat disparitas harga pasar dengan harga patokan batu bara (HPB) mulai menipis.
Lucky Leonard | 14 Maret 2019 23:38 WIB
Aktivitas penambangan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA--Mulai meningkatnya permintaan atas batu bara kalori rendah membuat disparitas harga pasar dengan harga patokan batu bara (HPB) mulai menipis.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan pasar batu bara kalori rendah mulai bergairah kembali. Hal tersebut menyusul impor China yang mulai longgar terhadap batu bara jenis tersebut.

"Sejak Februari sudah banyak yang masuk [batu bara kalori rendah ke China]. Harusnya itu bisa tecermin di harga batu bara acuan April ya," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (14/3/2019).

Dia mengatakan pemangkasan kuota produksi yang cukup signifikan dari Indonesia pada tahun ini pun menjadi sentimen positif terhadap harga batu bara. Pasalnya, Indonesia saat ini berstatus eksportir batu bara thermal terbesar dunia.

Dia mengungkapkan harga batu bara dengan kalori 4.200 kcal/kg saat ini sudah menyentuh level US$40 per ton. Adapun beberapa waktu lalu harga batu bara kalori rendah tersebut sempat berada di kisaran US$30 per ton.

Alhasil, disparitas harga yang sempat melebar dengan HPB sejak Agustus tahun lalu pun mulai menyempit. Dengan demikian, royalti yang dibayarkan produsen batu bara Indonesia mulai sesuai dengan harga pasar.

Hal senada diungkapkan CEO PT Arutmin Indonesia Ido Hutabarat. Pemeggang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) Generasi I tersebut sejak pertengahan tahun lalu menanggung tambayan biaya royalti akibat disparitas harga tersebut.

"Kita kan bayar royalti sesuai HPB. Disparitas itu buat Arutmin ada tambahan cost karena kita kebanyakan kalori rendah," katanya.

Menurutnya, disparitas harga tersebut mulai mengecil. Permintaan batu bara kalori rendah ke China pun mulai membaik, termasuk permintaan dari India.

"China mulai kembali ke normal dan impor dari Indonesia cukup baik," tuturnya.

Adapun sejak tahun lalu China sebagai importir utama batu bara memperketat prosedur impor batu bara kalori rendahnya. Dengan demikian, terjadi kelebihan pasokan batu bara kalori rendah karena tak terserap pasar China

Hingga bulan ini, HBA dengan kalori acuan 6.322 kcal/kg masih sulit keluar dari tren penurunan yang terjadi sejak September 2018.

Kementerian ESDM menetapkan HBA Maret 2019 senilai US$90,57 per ton. Harga tersebut turun tipis 1,34% dari HBA Februari 2019 senilai US$91,8 per ton.

Meskipun penurunan tersebut tidak signifikan, sejak September 2018, HBA terus terkikis dan belum pernah mencetak kenaikan bulanan. Terakhir kali HBA mencetak kenaikan bulanan pada Agustus 2018 ketika bertengger di level US$107,83 per ton.

Harga yang terus turun tersebut membuat HBA dalam tiga bulan pertama di 2019 masih jauh dari rata-rata HBA sepanjang tahun lalu yang mencapai US$98,96 per ton. 

Tag : batubara
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top