Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengusaha Mebel Putar Otak Jaga Kualitas

Industri mebel dan kerajinan memiliki banyak tantangan pada tahaun ini seperti naiknya upah minimum regional (UMR) hingga pasokan bahan baku yang tak menentu. Dengan kata lain, para pelaku usaha harus memutar otak untuk mempertahankan kapasitas produksi selagi menjaga kualitas.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 14 Maret 2019  |  21:55 WIB
Perajin menyelesaikan pembuatan kursi berbahan rotan di sentra industri rotan Desa Trangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (8/1/19). - ANTARA/Maulana Surya
Perajin menyelesaikan pembuatan kursi berbahan rotan di sentra industri rotan Desa Trangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (8/1/19). - ANTARA/Maulana Surya

Bisnis.com, JAKARTA -- Industri mebel dan kerajinan memiliki banyak tantangan pada tahaun ini seperti naiknya upah minimum regional (UMR) hingga pasokan bahan baku yang tak menentu. Dengan kata lain, para pelaku usaha harus memutar otak untuk mempertahankan kapasitas produksi selagi menjaga kualitas.

PT BMB Export (R.E.D) memilih untuk menstabilkan harga produk dengan melakukan efisiensi pada proses produksi dengan naiknya UMR. Perseroan menilai harga jual produk lokal harus tetap kompetitif di pasar ekspor terhadap negara kompetitor.

Tim Sales & Marketing R.E.D Rahardhaniek Susilaningrum mengataka tim riset dan pengembangan perseroan berusaha keras dalam mengulik bahan baku alternatif untuk tetap menghasilkan produk yang berkualitas. Menurutyna, pesaing utama produk lokal adalah produk-produk furnitur asal Vietnam.

"UMR niak, bahan-bahan [baku penunjang] juga naik, [alhasil] ongkos produksinya kan naik.Tapi, buyers itu menekan harga, jadi kita menekan harga juga," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (14/3/2019).

Namun demikian, ujarnya, perseroan optimis produk dalam negeri masih dapat menjadi juara. Pasalnya, Rahardhaniek menuturkan para distributor asing masih memilih produk Indonesia daripada Vietnam.

Pada Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2019, lanjutnya, perseroan berhasil membukukan perjanjian dagang sekitar 2--3 kontainer senilai sekitar US$75.000. Rahardhaniek mengutarakan target perjanjian awal senilai US$300 juta--US$400 juta yang ditetapkan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan (HIMKI) pada pameran tersebut cukup realistis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Industri Mebel dan Kerajinan
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top