IA-CEPA Buka Peluang Industri Alas Kaki, Efeknya Tak Besar?

Pelaku industri alas kaki memandang penandatangan kerja sama Indonesia—Australia atau Indonesia—Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) membuka peluang peningkatan ekspor ke Negeri Kangguru.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 12 Maret 2019  |  12:40 WIB
IA-CEPA Buka Peluang Industri Alas Kaki, Efeknya Tak Besar?
Pekerja menyelesaikan pembuatan sandal dan sepatu di PT Aggiomultimex, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (25/9). - ANTARA/Umarul Faruq

Bisnis.com, JAKARTA—Pelaku industri alas kaki memandang penandatangan kerja sama Indonesia—Australia atau Indonesia—Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) membuka peluang peningkatan ekspor ke Negeri Kangguru. Namun, efek terhadap nilai ekspor secara keseluruhan tidak besar karena populasi Australia hanya sekitar 10% penduduk Indonesia.

Budiarto Tjandra, Ketua Pengembangan Sport Shoes & Hubungan Luar Negeri Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), mengatakan sepanjang tahun lalu, ekspor alas kaki ke Australia tercatat senilai US$97 juta atau 1,9% dari total ekspor 2018 yang sekitar US$5,11 miliar.

“Dengan kesepakatan tersebut, produk alas kaki Indonesia bisa lebih kompetitif dibandingkan negara lain. Ada peluang untuk meningkatkan ekspor ke sana, tetapi untuk mendongkrak nilai ekspor secara keseluruhan tidak terlalu signifikan,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (12/3/2019).

Seperti diketahui, IA-CEPA ditandatangani oleh menteri perdagangan kedua negara pada Senin (4/3/2019). Pemerintah Australia berkomitmen untuk mengeliminasi bea masuk impor dari Indonesia untuk seluruh pos tarifnya menjadi 0%.

Tjandra menyebutkan, selama ini Australia menggantungkan pasokan alas kaki dari impor karena di sana tidak ada pabrik. Produk alas kaki nasional yang selama ini diekspor ke negara tersebut berjenis sepatu olahraga atau sport shoes, dan safety shoes.

Karena jumlah penduduk Australia, yang sebanyak 24,6 juta jiwa, ekspor alas kaki ke sana pun tidak terlalu besar apabila dibandingkan dengan negara lain. Hingga kini, Amerika Serikat dan kawasan Uni Eropa masih menjadi pasar terbesar untuk produk kaki dalam negeri dengan kontribusi masing-masing sebesar 30%.

Oleh karena itu, apabila Indonesia bisa menyelesaikan perjanjian dagang dengan Uni Eropa, nilai ekspor alas kaki keseluruhan bisa naik 10% - 20%.

Dari sisi bahan baku, pabrikan alas kaki selama ini mengimpor kulit kangguru dari Australia. Tjandra menyebutkan kulit kangguru digunakan untuk memproduksi sepatu high-end karena harganya 3 kali lipat dibandingkan kulit sapi. “Kulit kangguru tidak dikenakan bea masuk karena sepatunya kami ekspor lagi,” katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor alas kaki sepanjang 2018 tercatat senilai US$5,11 miliar, naik 4,15% dari tahun sebelumnya yang senilai US$4,91 miliar. Dari sisi pertumbuhan, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh 9,42% pada sepanjang 2018, naik cukup tinggi dari tahun sebelumnya sebesar 2,22%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ia-cepa

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top