Beli Rumah atau Ngontrak Dekat Kantor, Ini Pilihan yang Paling Menguntungkan

Mencari tempat tinggal dengan harga ideal berarti harus menjelajah hingga pinggiran kota. Nah, sewa kosan atau rumah kontrakan menjadi pilihan agar hidup efektif di kota. Namun, apakah sewa rumah lebih baik dari beli rumah? ini ulasannya
Ahmad Rifai | 06 Maret 2019 17:46 WIB
Beli rumah atau ngontrak? - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA – Generasi milenial diprediksi sulit memiliki rumah kaerna gaya hidup yang boros dan rata-rata kenaikan harga yang yang sangat tinggi. Namun, apakah benar generasi itu bakal sulit punya rumah hingga harus ngontrak?

Situs Rumah123 memperkirakan dalam 3 tahun mendatang, tepatnya 2020, hanya 5% Generasi Milenial (rentang kelahiran 1982 hinga 1995) yang mampu membeli rumah. Sisanya hanya mampu numpang, atau yang terburuk jadi 'gelandangan'.

Perhitungan yang dilakukan Rumah123 itu berdasarkan kenaikan harga rumah yang jauh lebih tinggi yakni, 17% dibandingkan dengan pendapatan per tahun UMR yang cuma tumbuh 10%. 

Disamping itu, gaya hidup Generasi Milenial yang cenderung boros juga memperparah kondisi ini. Misalnya, hasrat untuk memiliki rumah jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan keinginan untuk memiliki smartphone keluaran terbaru atau minat untuk melakukan plesiran yang lebih tinggi.

Mereka lebih tertarik untuk bersuara kala harga tiket pesawat mengalami kenaikan ketimbang memprotes ongkos membeli rumah yang saban tahun pasti mengalami kenaikan.

Alhasil, biaya hidup Generasi Milenial yang kian mahal bukannya tambah surut, justru semakin membengkak dengan solusi 'menyesatkan' yang mereka terapkan, seperti menyewa properti semisal kost, rumah, atau bahkan apartemen. 

Berkah Menyewa Rumah

Di tengah bombardir narasi yang kesannya menakut-nakuti bahwa Generasi Milenial bakal jadi 'gembel' karena tak mampu membeli rumah, menjatuhkan pilihan dengan menyewa properti tetap memiliki sejumlah keunggulan.

Misalnya, membeli rumah di kota-kota besar harganya sudah tidak masuk akal. Otomatis pilihan rasional yang tersisa adalah membeli rumah yang letaknya ada di pinggiran kota. Namun jika memutuskan untuk membeli properti, berapa ongkos materiil maupun psikis yang 'dikuras' untuk berangkat-pulang kantor? 

Hal ini tentunya akan berbeda jika memilih opsi menyewa properti. Meski tinggal di pusat kota, biaya yang dikeluarkan per bulannya masih bisa dibilang masuk akal, apalagi untuk kesehatan jiwa.

Terkait hiburan, menyewa properti otomatis punya akses lebih banyak dan mudah jika dibandingkan dengan pihak yang memilih melipir ke 'Distrik 12'-nya Hunger Games alias pinggiran kota. Jadi, dengan menyewa rumah penat para pekerja bisa lebih mudah untuk dicarikan 'obatnya'. 

Selain itu, si penyewa juga lebih mudah untuk berpindah-pindah tempat karena ketidakterikatannya dengan properti yang ditinggalinya. 

Hal ini berbeda dengan si pembeli properti. Pihak ini ibarat kura-kura atau siput yang membawa rumah mereka di punggungnya. Alhasil, banyak pertimbangan yang harus mereka renungkan sebelum memutuskan untuk pindah atau bertahan.

Belum lagi, menjual rumah untuk pindah ke tempat lain tidak semudah yang dibayangkan. Ada rangkaian proses melelahkan yang harus dilalui, mulai dari mencari pembeli, negosiasi harga, hingga mengurus berkasnya.

Melihat hal ini, menyewa properti jauh lebih unggul karena kemampuannya dalam berganti suasana dengan cepat dan biaya yang terkadang jauh lebih murah dibanding beban pikiran yang harus ditanggung saat menjual rumah.

Pada akhirnya, beli atau sewa properti punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.  Sebagai Generasi Milenial yang tercerahkan, kamu harus bisa menentukan mana yang jadi prioritas saat ini. 

Jadi, kamu lebih pilih beli atau sewa properti nih?

Tag : perumahan
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top