Aspal Buton Masih Minim Penyerapan

Kementerian Pekerjaan Umun dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengaku belum optimal dalam menyerap bahan campuran aspal buton, karena tingkat kesulitan yang tinggi.
Krizia Putri Kinanti
Krizia Putri Kinanti - Bisnis.com 27 Februari 2019  |  18:34 WIB

Bisnis.com, JAKARTA-- Kementerian Pekerjaan Umun dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengaku belum optimal dalam menyerap bahan campuran aspal buton, karena tingkat kesulitan yang tinggi.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa ada 3 jenis campuran yang bisa digunakan untuk aspal, tidak hanya plastik dan karet namun terdapat aspal buton.

Namun, dia mengakui penyerapan aspal berbahan buton ini tidak begitu besar dikarenakan di dalam pengerjaannya yang lebih memerlukan ketelitian.

"Pengerjaan aspal buton itu kan workmanship-nya harus lebih rapi, harus tepat jadi diperlukan ketelitian lebih, harus lebih detail dan pengawasan lebih ketat. Kalau aspal karet dan plastik itu kan dicampur biasa, itu yang merubah sikap," katanya kepada Bisnis, Senin (25/2/2019).

Aspal Buton merupakan kekayaan alam Indonesia karena depositnya diperkirakan sebanyak 663 juta ton dengan kandungan bitumen sekitar 132 juta ton. Aspal Buton tidak persis sama dengan aspal minyak sehingga teknologinya agak berbeda dengan teknologi perkerasan jalan menggunakan aspal minyak.

Asbuton ini memiliki keunggulan karena merupakan aspal alam yang memiliki ketahanan dan elastisitas yang tinggi dibandingkan dengan aspal ekstrasi. Jika terkena matahari dan hujan, asbuton akan semakin kuat dan padat, teksturnya pun elastis sehingga kecil kemungkinan mengalami keretakan.

Menurut Basuki, pihaknya ingin menyerap ketiga bahan campuran ini dengan sama rata, tidak ada kecondongan karena ketiganya digunakan untuk pembuatan jalan di daerah penyerapannya masing-masing.

"Ekonomisnya ini butuh semua kita harus menyerap aspal buton, kita juga harus membersihkan lingkungan dari plastik juga menyerap karet. Penyerapannya itu jadi kalo daerah Timur kita pakai buton kalo yang di Sumatra, Kalimantan bisa pakai karet, Jawa bisa pakai plastik," paparnya.

Teknologi aspal Buton terus dikembangkan baik dari sisi jaminan kualitas dan teknik penghamparan oleh Balitbang Kementerian PUPR di antaranya campuran beraspal dengan aspal Buton, cold paving hot mix asbuton (CPHMA), lapis penetrasi macadam asbuton (LPMA), butur seal, cape buton seal, dan asbuton campuran aspal emulsi.

Menurut catatan Kementerian PUPR, tahun lalu, penggunaan aspal Buton dilakukan pada jalan sepanjang 709 kilometer yang tersebar di ruas jalan di berbagai provinsi dengan jumlah aspal Buton yang dibutuhkan sebanyak 58.879 ton.

Sementara, pada tahun 2017 telah dilakukan replikasi perdana teknologi butur seal dan CPHMA untuk jalan dengan lalu lintas rendah hingga sedang di Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini juga sekaligus memperkenalkan teknologi aspal Buton kepada pemda dan penyedia jasa tingkat provinsi, kabupaten, dan desa.

CPHMA adalah produk campuran beraspal siap pakai. Pencampuran dilakukan secara pabrikasi kemudian didistribusikan dalam bentuk kemasan dan selanjutnya dihampar dan dipadatkan secara dingin (pada temperatur udara).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
aspal buton

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup