Kemenkes Buka Kesempatan Perawat Indonesia Berkarir di Jepang

Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (BPPSDM) Kesehatan Kementerian Kesehatan menjalin kerja sama Government-to-Private (G2P) dengan Fukuoka Prefecture Medical Association (FPMA) Jepang dalam hal pengiriman perawat dari Indonesia.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 22 Februari 2019  |  23:25 WIB
Kemenkes Buka Kesempatan Perawat Indonesia Berkarir di Jepang
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (BPPSDM) Kesehatan melaksanakan kerja sama Government-to-Private (G2P) dengan Fukuoka Prefecture Medical Association (FPMA) Jepang.

Kedua belah pihak telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Re-Challenge Returnee EPA Program di Fukuoka Prefecture, Jepang, Senin (18/2/2019).

Kepala BPPSDM Usman Sumantri mengatakan sampai 2018 masih ada tenaga perawat sebanyak 653 orang yang menjadi kandidat perawat Jepang selama 3 tahun melalui kerangka Indonesia – Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA). Dalam masa kontrak tersebut, kandidat perawat diberi kesempatan untuk mengikuti Ujian Nasional Perawat Jepang (Kangoshi) sebanyak tiga kali.

Namun, hingga saat ini, jumlah perawat yang lulus ujian Kangoshi masih sangat rendah. Sehingga, mereka tidak dapat melanjutkan pekerjaannya dan harus kembali ke Indonesia setelah masa kontrak berakhir.

“FPMA menawarkan kerja sama untuk memberikan kesempatan kepada returnee perawat EPA untuk bekerja kembali di Jepang, yaitu di Fukuoka Prefecture. Peserta akan diberikan pelatihan pemantapan ujian Kangoshi terlebih dahulu di Indonesia selama 1-3 bulan dan difasilitasi untuk mengikuti ujian tingkat nasional di Jepang sebagai tenaga perawat (Registered Nurse) maupun ujian tingkat lokal sebagai Asisten Perawat di Jepang (Licensed Assistant Nurse). Diharapkan peserta yang telah mengikuti program ini akan lulus lebih dari 70%,” paparnya melalui keterangan resmi, Jumat (22/2).

Dalam MoU tersebut, pihak FPMA akan melakukan pelatihan pemantapan dan penempatan tenaga perawat yang telah lulus ujian di rumah sakit dan klinik yang berada di bawah FPMA.

Bagi perawat yang hanya lulus Licensed Assistant Nurse, selama bekerja di Fukuoka akan difasilitasi untuk meningkatkan kapasitas agar dapat lulus ujian nasional. Sementara itu, BPPSDM menyiapkan tenaga returnee yang akan mengikuti program tersebut.

“Saat ini, FPMA membawahi sekitar 450 rumah sakit dan 4.000 klinik di wilayah Fukuoka Prefecture dan sempat kami kunjungi klinik dan bertemu dengan perawat kita dan kelihatannya mereka cukup sejahtera,” ucap Usman.

Mengingat kebutuhan perawat yang sangat tinggi di Jepang, termasuk di Fukuoka Prefecture, FPMA mempertimbangkan untuk mendukung penyiapan penempatan perawat ke Jepang. Salah satunya melalui bantuan proses pendidikan Bahasa Jepang di kelas Intenasional yang akan diadakan di lingkungan Poltekkes Kemenkes.

BPPSDM juga mengundang pihak Jepang untuk berinvestasi dalam membangun rumah lanjut usia (lansia) di Indonesia, khususnya di Bali dan Bintan. Rumah lansia tersebut diharapkan dapat menjadi destinasi baru dalam perawatan lansia bagi warga Jepang dengan memberdayakan perawat dan careworker Indonesia pascapenempatan di Jepang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jepang, perawat

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup