Properti di Sydney Turun Drastis Akibat Bunga Tinggi

Properti di Sydney, Australia, turun drastis sepanjang 2018. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kondisi di Indonesia meskipun hanya bertumbuh minim.
Mutiara Nabila | 12 Februari 2019 15:37 WIB
Crown Group. - Crown Group

Bisnis.com, JAKARTA – Properti di Sydney, Australia, turun drastis sepanjang 2018. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kondisi di Indonesia meskipun hanya bertumbuh minim.

CEO Crown Group Iwan Sunito, pengembang Australia asal Indonesia, mengatakan bahwa di Sydney, Australia sepanjang 2018, aktivitas konstruksinya turun sekitar 40%. Selain itu, perkembangan aplikasi perizinan bangunannya juga turun 20%.

“Hal ini salah satunya dikarenakan suku bunga banknya yang terlalu tinggi. Para pakar ekonomi sebenarnya sedang mengusahakan agar suku bunga diturunkan,” ungkapnya di Jakarta, Senin (11/2/2019).

Iwan menambahkan, kalau sektor properti turun, akan buruk bagi suatu negara karena tingkat penganggurannya akan meningkat dan menurunkan pendapatan negara.

“Sekarang turun banyak juga salah satunya karena investor China yang dulu besar, sekarang menyusut karena aturan pemerintah Australia itu,” lanjut Iwan.

Sementara itu, saat ini yang mulai berkembang di Australia adalah pengembang dari Jepang. Sebelumnya pengembang Negeri Sakura kurang berpartisipasi di pasar properti Australia.

“Menyusutnya China buat kami bagus sebenarnya, karena kita bisa land banking lagi. Dulu kan banyak tanah yang diakuisisi China, sekarang banyak yang lepas, bisa kami ambil lagi,” imbuhnya.

Hal ini berbeda dengan di Indonesia yang pertumbuhan propertinya masih bertumbuh meskipun tipis. Menurut catatan Bisnis, tahun ini sejumlah asosiasi pengembang memproyeksikan akan ada pertumbuhan sekitar 10% dari tahun lalu.

“Setelah Pemilu saya yakin penjualan properti akan lebih cepat. Masa depan properti indonesia bagus,” ujarnya.

Dia mengungkapkan bahwa telah mendapat banyak tawaran untuk mengembangkan sejumlah proyek properti di Indonesia. Di lokasi yang dikira akan lesu atau biasa saja, hasilnya justru mengejutkan dan sukses.

“Di Surabaya saja misalnya, saya malah kaget kok berhasil proyeknya. Ini indikator yang baik. Ini mungkin karena sekarang kan orang berpikirnya tidak lagi punya properti, hunian yang lebih punya akses, ke masyarakat, ke jalan, ke kantor. Bukan lagi harus mewah, jadi itu yang bikin bisa tetap tumbuh,” tambahnya.

Tag : penjualan properti
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top