Proyek Tol Jogja-Solo: Harga Tanah di Klaten sudah Rp1,5 Juta per Meter Persegi

Harga tanah di Klaten dinilai sudah tinggi , yaitu di kisaran Rp1.000.0000Rp1.500.000 per meter persegi untuk lokasi tanah di tepi jalan, sebelum penduduk mendengar rencana pembangunan proyek tol Solo-Jogja.
Taufik Sidik Prakoso
Taufik Sidik Prakoso - Bisnis.com 07 Februari 2019  |  09:46 WIB
Proyek Tol Jogja-Solo: Harga Tanah di Klaten sudah Rp1,5 Juta per Meter Persegi
Sejumlah kendaraan mobil pemudik arus balik melintasi jalur tol fungsional Solo-Salatiga di Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (20/6). - Antara

Bisnis.com.com, KLATEN – Harga tanah di Klaten dinilai sudah tinggi , yaitu di kisaran Rp1.000.0000—Rp1.500.000 per meter persegi untuk lokasi tanah di tepi jalan, sebelum penduduk mendengar rencana pembangunan proyek tol Solo-Jogja.

Budi Dyatmoko, Kepala Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, mengatakan harga tanah di wilayah Tempursari selama setahun terakhir sudah mengalami kenaikan.

Harga tanah itu terutama yang berada di tepi jalan raya sudah senilai Rp1,5 juta per meter persegi dari sebelumnya di bawah Rp750.000 per meter persegi.

“Kenaikan itu sebelum ada kabar jalan tol. Karena juga ada perubahan zona. Lahan di tepi jalan itu sudah menjadi zona kuning dari sebelumnya zona hijau,” tutur dia kepada Solopos.com, Selasa (5/2/2019).

Budi menambahkan selama ini sudah ada orang yang berdatangan ke Tempursari menanyakan harga tanah. “Tetapi yang datang menanyakan tanah  hubungannya terdampak tol belum ada. Mudah-mudahan tidak ada broker yang masuk,” ungkapnya.

Triyono, Kepala Desa Senden, Kecamatan Ngawen, Klaten, menambahkan selama ini harga tanah di wilayah Senden sudah tinggi. Ia mencontohkan untuk sawah seluas 2.000 meter persegi, harganya sudah mencapai Rp500 juta. Sementara, lahan permukiman di tepi jalan harga tanahnya sudah mencapai Rp1 juta per meter persegi.

“Sebelum ada kabar soal tol harganya sudah tinggi,” jelas dia.

Menurut dia, hingga kini pemerintah desa setempat belum didatangi atau dilapori warga terkait broker yang mencari informasi lahan terdampak tol.

Tiryono membenarkan pada 2018 lalu ada tim dari Jakarta yang mengaku berasal dari tim pemetaan lahan untuk jalan tol sembari membawa hasil foto satelit wilayah Senden. “Setelah itu tidak ada kabar lagi. Sampai saat ini warga juga adem ayem. Belum banyak yang membicarakan soal itu,” kata Triyono saat dihubungi Solopos.com, Selasa (5/2/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tol solo-yogyakarta

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top