Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

The Fed Pertahankan Suku Bunga, Ekspektasi Pengetatan Lebih Lanjut Berkurang

Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve memutuskan mempertahankan tingkat suku bunganya dan berjanji akan bersabar dalam hal penaikan biaya pinjaman lebih lanjut.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 31 Januari 2019  |  06:31 WIB
/Reuters
/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve memutuskan mempertahankan tingkat suku bunganya dan berjanji akan bersabar dalam hal penaikan biaya pinjaman lebih lanjut.

Setelah mengadakan pertemuan kebijakan (FOMC meeting) selama dua hari yang berakhir pada Rabu (30/1/2019) waktu setempat (Kamis dini hari WIB), bank sentral AS tersebut memutuskan mempertahankan tingkat suku bunganya di 2,25%-2,50%.

Merujuk pada meningkatnya ketidakpastian tentang prospek ekonomi AS, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan perkara soal penaikan suku bunga telah berkurang dan, dalam sebuah pernyataan, The Fed menurunkan ekspektasi sebelumnya untuk beberapa pengetatan lebih lanjut.

The Fed juga bergeser ke sikap yang lebih dovish terkait pelepasan aset yang sedang berlangsung, dengan menyatakan siap untuk menyesuaikan rencananya berdasarkan perkembangan ekonomi dan keuangan.

Di depan awak media setelah pertemuan kebijakan The Fed berakhir, Powell mengatakan bank sentral itu kemungkinan akan berhenti memangkas neracanya senilai US$4,1 triliun lebih cepat, sehingga akan ada lebih banyak aset daripada yang diperkirakan sebelumnya.

“Situasi saat ini membutuhkan kesabaran,” ujar Powell, merujuk pada prospek kenaikan suku bunga lebih lanjut. “Saya pikir itu hal yang benar. Saya merasa benar-benar yakin.”

Pernyataan mengenai neraca dan sikap terkait kenaikan suku bunga dimaksudkan untuk menyampaikan fleksibilitas maksimum dari bank sentral tersebut.

“Mengingat perkembangan ekonomi dan keuangan global, komite akan bersabar dalam menentukan kenaikan suku bunga di masa depan,” ujar komite penetapan suku bunga Fed dalam pernyataannya.

Dalam beberapa pekan terakhir, The Fed telah terbebani volatilitas pasar keuangan, tanda-tanda perlambatan ekonomi global, dan penutupan sebagian layanan pemerintah di AS (partial government shutdown) yang memperkeruh perekonomian Negeri Paman Sam.

Penurunan nada dalam penggunaan bahasa The Fed seputar kenaikan suku bunga di antaranya adalah perubahan dalam deskripsi pertumbuhan ekonomi dari "kuat" menjadi "solid," dan mencatat bahwa langkah-langkah kompensasi inflasi berbasis pasar telah "bergerak lebih rendah dalam beberapa bulan terakhir."

“Ini menandai [perubahan] 180 derajat dari apa yang diisyaratkan oleh The Fed beberapa bulan yang lalu,” kata Mohamed El-Erian, kepala penasihat ekonomi di Allianz, California, seperti dilansir Reuters.

The Fed menaikkan suku bunganya sebanyak empat kali tahun lalu termasuk pada Desember, ketika mengisyaratkan akan melakukan dua kali penaikan lebih lanjut tahun ini.

Bagaimana pun, prospek ekonomi telah menjadi kurang bergairah sebagai akibat dari volatilitas baru-baru ini di pasar keuangan dan tanda-tanda perlambatan pertumbuhan di luar negeri, termasuk di China dan zona euro.

Pernyataan kali ini sekaligus menjadi sinyal yang paling jelas bahwa siklus pengetatan suku bunga yang dimulai pada 2015 mungkin akan berakhir.

Menyusul pernyataan The Fed, bursa saham Wall Street AS melonjak, sedangkan dolar AS dan imbal hasil bertenor pendek turun ketika investor memperhitungkan probabilitas yang lebih rendah mengenai kenaikan suku bunga tambahan dalam waktu dekat.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kebijakan The Fed
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top