PETERNAKAN SAPI: Hasil Upaya Khusus Bisa Dinikmati pada 2020

Hasil produksi sapi perah dan sapi potong sejumlah 2,7 juta ekor dari program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) bisa mulai dinikmati pada 2020.
Pandu Gumilar | 08 Januari 2019 19:26 WIB
Petugas memeriksa sapi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Dinas Peternakan dan Pangan, Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (8/1/2019). - ANTARA/Harviyan Perdana Putra

Bisnis.com, JAKARTA – Hasil produksi sapi perah dan sapi potong sejumlah 2,7 juta ekor dari program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) bisa mulai dinikmati pada 2020.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengatakan selama dua tahun Upsus Siwab berjalan sudah melahirkan 2,74 juta ekor. Dari jumlah tersebut 500.000 diantaranya adalah sapi perah sementara 2,2 juta ekor sisanya adalah sapi potong.

Jumlah sapi perah yang dilahirkan lebih sedikit karena populasi jenis itu pun terbatas yakni 250.000 ekor jantan dan 250.000 ekor betina. Selain itu, Ketut pun mengatakan Upsus Siwab lebih memfokuskan dalam penambahan populasi sapi potong supaya produksi daging sapi juga meningkat.

“Dari kelahiran 2,7 juta ekor sapi perah tidak begitu banyak. Kami fokus kepada sapi potong, kalau lahir 2017-2018 kemungkinan baru bisa potong tiga tahun lagi,” katanya, Selasa (8/1).

Ketut mengatakan dalam setahun sebenarnya sapi yang dipotong dalam negeri sebanyak 2,3 juta ekor atau setara dengan 660.000 ton produksi daging sapi. Jumlah tersebut setara dengan yang dilahirkan dalam dua tahun terakhir. Kendati demikian, Ketut menyampaikan meskipun pada 2020 bisa menikmati hasil dari lonjakan populasi sapi tapi hal tersebut juga seiring dengan pertambahan populasi manusia.

“Selama ini 67% produksi sapi dipotong dari sapi lokal. Dengan program ini kita bisa menambah peningkatan populasi sapi karena konsumen pasti akan bertambah lagi. Loncatan konsumsi penduduk juga ada. Apakah tren keduanya akan seimbang, menurut saya populasi sapi harusnya bertambah dua kali lagi,”katanya. 

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, pertumbuhan populasi Upsus Siwab (2014-2017) mengalami kenaikan sebesar 3,86% per tahun, dibanding dengan sebelum program GBIB (Geretak Birahi dan Inseminasi Buatan) dan Upsus Siwab (2012 – 2014) dengan rata-rata pertumbuhan per tahunnya sebesar 1,03%.

“Esensi Upsus Siwab adalah mengubah pola pikir petani ternak domestik yang cara beternak peternaknya selama ini masih bersifat sambilan diarahkan ke praktik beternak yang menuju ke arah profit dan menguntungkan bagi peternak,” kata Ketut.

Menurutnya, selain percepatan peningkatan populasi sapi dan mengubah pola pikir peternak dampak Upsus Siwab juga mampu menurunkan pemotongan betina produktif. Pemotongan sapi dan kerbau betina produktif secara nasional pada periode Januari  sampai November 2018 sebanyak 8.514 ekor. Jumlah pemotongan tersebut menurun 57,12 persen dibandingkan dengan pemotongan sapi dan kerbau betina produktif pada periode yang sama pada 2017.

“Upsus Siwab juga telah mampu menghasilkan sapi-sapi yang berkualitas dengan peningkatan kualitas sumber daya genetik ternak sapi. Untuk meningkatkan produksi daging sapi, Kementan juga melakukan pengembangan sapi “Belgian Blue” yang memiliki perototan besar yang beratnya bisa mencapai diatas 1,2 ton sampai 1,6 ton”, tambahnya.

Selain itu, penambahan indukan impor juga telah dilakukan oleh pemerintah pada tahun 2015 dan 2016 sebanyak 6.323 ekor yang didistribusikan ke Provinsi Kalimantan Timur, Aceh, Sumatera Utara dan Riau. Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan oleh Ditjen PKH Kementan pada bulan November 2018, indukan impor yang dipelihara oleh kelompok peternak saat ini telah berkembang menjadi sebanyak 7.439 ekor atau telah mengalami pertumbuhan sebesar 17,65% karena bertambah 1.116 ekor dari jumlah awal. 

“Kita juga telah menambah sapi indukan impor sebanyak 2.065 ekor pada tahun 2018 kemarin dan telah mendistribusikannya kepada 115 kelompok peternak dan 8 UPTD yang tersebar di 14 provinsi, diantaranya: Provinsi Lampung, Bangka Belitung,  Jambi,  Sumatera Selatan,  Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Yogyakarta,  Kalimantan Barat,  Jawa Tengah,  Jawa Timur dan Jawa Barat”, ungkap I Ketut Diarmita.

I Ketut berharap dengan adanya penambahan indukan impor ini diharapkan terjadi peningkatan produksi daging sapi dalam negeri dan bertambahnya usaha sapi berskala usaha komersil di tingkat peternak, sehingga populasi secara nasional akan bertambah, sekaligus akan bertambah sumber input produksi sebagai investasi yang menjadi pondasi menuju swasembada daging sapi yang dicanangkan tercapai di tahun 2023.

Tag : peternakan sapi
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top