Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Peningkatan Ekspor Mamin Jadi Perhatian Kemenperin

Keberlangsungan produksi sektor industri makanan dan minuman dinilai harus diperhatikan sebelum meningkatkan ekspor. Adapun peningkatan ekspor sektor tersebut menjadi fokus Kementerian Perindustrian pada tahun ini.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 01 Januari 2019  |  21:50 WIB
Pekerja mengemas produk minuman kopi serbuk di pabrik produk hilir PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, Banaran, Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/7). - ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Pekerja mengemas produk minuman kopi serbuk di pabrik produk hilir PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, Banaran, Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/7). - ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA – Keberlangsungan produksi sektor industri makanan dan minuman dinilai harus diperhatikan sebelum meningkatkan ekspor. Adapun peningkatan ekspor sektor tersebut menjadi fokus Kementerian Perindustrian pada tahun ini.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal menilai rencana pemerintah untuk meningkatkan ekspor sektor makanan dan minuman (mamin) yang memiliki kelebihan kapasitas produksi akan terhambat jika produksi belum berkelanjutan. Kendala itu pun menurutnya akan menghambat target menjadi lima besar eksportir mamin pada 2030 akan sulit tercapai.

Faisal menjelaskan sektor mamin mencatatkan surplus dalam produksinya, tetapi surplus tersebut berkurang dibandingkan tahun lalu. Hal tersebut menurutnya perlu menjadi lampu kuning bagi industri agar bisa meningkatkan keberlangsungan produksi.

"Kalau bicara ekspor harus diperhatikan sustainable, bagaimana kita bisa menjamin ketersediaan pasokan itu suatu hal yang memang tidak sembarang kita ekspor dan tahun depan hilang," ujar Faisal kepada Bisnis, belum lama ini.

Dia menjelaskan, keberlangsungan produksi salah satunya dapat dicapai dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), meningat sektor mamin tergolong padat karya. Perkembangan industri 4.0 sendiri menurutnya dapat menekan industri padat karya jika kemampuan SDM-nya tidak ditingkatkan.

Faisal pun menilai infrastruktur penopang industri perlu terus dikembangkan agar biaya produksi dan logistik dapat ditekan. "Sementara ini kita belum melihat suatu hal [infrastruktur penopang] yang cukup signifikan di sektor industri makanan dan minuman," ujarnya.

Menurutnya Kementerian Perindustrian perlu membuat langkah signifikan untuk mengembangkan sektor mamin yang pertumbuhannya cenderung stagnan. Pengembangan sektor mamin dinilai Faisal dapat mendorong pertumbuhan sektor manufaktur, meningat mamin berkontribusi hingga 30%.

Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman memproyeksikan pertumbuhan industri mamin pada 2019 berkisar 8%–9%, sama seperti 2018. Adapun terkait keberlangsungan produksi, Adhi menilai perlu adanya kerja sama seluruh sektor dari hulu ke hilir, seperti sektor pertanian dan perikanan.

Adapun untuk menggenjot ekspor, Adhi menilai perlu adanya pendekatan intensif ke pasar non tradisional. Salah satu langkah yang harus dilakukan untuk menyentuh pasar tersebut adalah perundingan dalam penerimaan standar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri mamin
Editor : Maftuh Ihsan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top