2019, Bongkar Muat Kontainer di Pelabuhan Kuala Tanjung 100.000 TEUs

PT Pelabuhan Indonesia I membidik arus bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara sebanyak 100.000 TEUs pada 2019.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 27 Desember 2018  |  17:31 WIB
2019, Bongkar Muat Kontainer di Pelabuhan Kuala Tanjung 100.000 TEUs
Suasana bongkar muat kapal kontainer di Terminal Multiguna Pelabuhan Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara, Kamis (27/12). PT Pelabuhan Indonesia I melepas kargo ekspor perdana di terminal tersebut dengan kapal Wan Hai 505, membawa 180 TEUs kargo ekspor tujuan China. JIBI/Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, LIMAPULUH — PT Pelabuhan Indonesia I membidik arus bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara sebanyak 100.000 TEUs pada 2019.

Direktur Utama Pelindo I Bambang Eka Cahyana mengatakan bahwa pengoperasian Pelabuhan Kuala Tanjung secara penuh dilaksanakan pada awal 2019 dan diproyeksi menjadi gerbang ekspor utama di Sumatra. Pelabuhan ini, lanjutnya, bisa mengakomodasi pengiriman kargo ekspor langsung ke negara tujuan.

Dengan pengiriman langsung, pemilik barang maupun pelayaran tak perlu lagi melakukan alih muat di Malaysia atau Singapura.

"Kalau kami ekspor langsung, itu lebih murah US$300 per TEUs [twenty foot equivalent unit] karena tidak perlu ada feeder [pengumpan]," ujarnya selepas acara pelepasan kargo ekspor perdana  di Pelabuhan Kuala Tanjung, Kamis (27/12/2018).

Bambang berharap agar dengan biaya logistik yang lebih murah, hasil produk industri nasional bisa bersaing di pasar mancanegara.

Di samping itu, keberadaan Pelabuhan Kuala Tanjung diharapkan memacu pelaku industri di Sumatra untuk menggenjot produk barang jadi.

Dalam acara pelepasan kargo ekspor perdana, sebanyak 180 boks atau 205 TEUs kargo ekspor diangkut oleh kapal Wan Hai 505 milik perusahaan pelayaran Wan Hai Lines.

Kargo dengan tujuan China itu memuat produk turunan minyak sawit mentah (CPO) berupa lauric acid, sabun, asam lemak, alkohol lemak, dan gliserol. Kargo tersebut merupakan hasil produksi PT Unilever Oleochemical Indonesia, PT Bakrie Sumatera Plantations, dan Procter & Gamble (P&G).

Bambang mengatakan bahwa Pelabuhan Kuala Tanjung kini mulai diperhitungkan karena perusahaan pelayaran asing mulai bersandar di pelabuhan tersebut.

Dia menggambarkan, rute intra-Asia yang dilayani Wan Hai sebelumnya hanya singgah di Penang, Tanjung Pelepas (Malaysia), dan Singapura.

"Target dan konsentrasi kami ke inter-Asia dulu, nanti coba minta Wan Hai untuk menambah servisnya ke Jepang."

Pelabuhan Kuala Tanjung merupakan proyek jangka panjang yang dimulai sejak 2015. Pada pengembangan tahap pertama, Pelabuhan ini memiliki terminal multiguna dengan kapasitas 600.000 TEUs.

Untuk mendukung aktivitas bongkar muat, terminal ini dilengkapi 3 unit ship to shore (STS) crane, 8 unit automated rubber tyred gantry (ARTG) crane, 21 unit terminal truk, dan 2 unit mobile harbour crane (MHC).

Pada pengembangan tahap kedua, Pelindo I akan mengembangkan kawasan industri seluas 3.000 hektare.

Adapun, pada pengembangan tahap ketiga, Pelindo I akan membangun pelabuhan hub internasional. Secara keseluruhan, kapasitas Pelabuhan Kuala Tanjung bakal mencapai 20 juta TEUs secara  bertahap hingga 2023.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peti kemas, pt pelindo i, pelabuhan kuala tanjung

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top