Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Lebih dari 50 Juta Hunian di China Dibiarkan Kosong

Upaya Presiden China Xi Jinping untuk membuat properti dihuni seperti tidak digubris sama sekali dengan jutaan apartemen dan rumah tapak masih tak berpenghuni hampir di seluruh wilayah.
Ilustrasi Kota Fuzhou, China/RYAN
Ilustrasi Kota Fuzhou, China/RYAN

Bisnis.com, JAKARTA - Upaya Presiden China Xi Jinping untuk membuat properti dihuni seperti tidak digubris sama sekali dengan jutaan apartemen dan rumah tapak masih tak berpenghuni hampir di seluruh wilayah.

Peneliti dari Universitas Keuangan dan Ekonomi Southwestern Profesor Gan Li mengatakan sekitar 22% dari hunian di perkotaan di China yang tersedia dibiarkan kosong dan tidak ditinggali meskipun pemerintah telah menaikkan pajak pada properti yang kosong.

"Angka tersebut kini telah bertambah, lebih dari 50 juta rumah dan apartemen di China dibiarkan kosong," ujar Gan Li dikutip melalui Bloomberg.com, Senin (10/12/2018).

Gan Li mengatakan skenario terburuk dari jutaan properti kosong tersebut adalah ketika pasar properti China memasuki siklus terendah, sehingga banyak pemilik dari properti kosong tersebut akan terburu-buru untuk menjualnya yang mengakibatkan harga pasar bergeser drastis.

Data terbaru dari survei yang dilakukan pada 2017 juga menunjukkan upaya Beijing untuk mengekang para spekulan properti yang dianggap pemerintah sebagai ancaman utama dari kestabilan keuangan dan sosial akan segera berakhir.

"Tidak ada negara lain yang memiliki tingkat kekosongan yang tinggi seperti China, dan ketika siklus properti mulai menurun, jumlah hunian yang akan dibongkar dipastikan akan membanjiri China," papar Gan Li.

Rumah untuk berlibur dan rumah para migran yang mencari kerja di daerah berbeda adalah salah satu tipe rumah yang memberikan kontribusi pada tingkat kekosongan tinggi. Namun, Gan Li mengatakan pembelian hunian untuk investasi adalah kunci yang akan mempertahankan tingkat kekosongan hunian tetap tinggi.

Adapun, spekulan perumahan selama ini telah membuat Pemerintah China bimbang dalam beberapa tahun terakhir. Terdapat berbagai kota dan provinsi di China yang telah memperketat pembatasan pembelian hanya agar pasar properti di daerah lain dapat lebih aktif.

Kenaikan harga rumah yang telah melambung tinggi juga akan berdampak pada jutaan konsumen yang akan menahan diri dari pasar dan akan memperburuk kesetaraan pasar di China.

Sementara itu, Presiden China Xi Jinping pun sebenarnya telah banyak memberi petunjuk untuk tidak membiarkan hunian kosong begitu saja dan dapat dihuni segera.

"Hunian, baik apartemen maupun rumah tapak, dibangun untuk dihuni bukan hanya untuk spekulasi," ujar  Xi Jinping.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Nancy Junita
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper