Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Subsidi Energi Beratkan APBN 2018

Subsidi energi menjadi faktor pendorong utama pertumbuhan belanja negara sebesar 11%. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari kebijakan menahan harga BBM.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 09 Desember 2018  |  21:20 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA-- Subsidi energi menjadi faktor pendorong utama pertumbuhan belanja negara sebesar 11%. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari kebijakan menahan harga BBM.

Pemerintah memperkirakan belanja subsidi energi diperkirakan membengkak mencapai Rp150 triliun atau 158,73% dari pagu APBN 2018 sebesar Rp94,5 triliun. 

Sementara itu, realisasi belanja negara hingga November 2018 tercatat mencapai Rp1.942,4 triliun atau 87,5% dari target APBN 2018 dengan pertumbuhan sebesar 11%.

Project Consultant Asian Development Bank (ADB) Insutitute Eric Alexander Sugandi menekankan belanja energi yang naik tajam bahkan melebihi target sebagai konsekuensi logis menahan harga BBM bersubsidi.

"Ini konsekuensi logis dari kebijakan pemerintah menahan harga BBM bersubsidi dan non subsidi, walau akhirnya yang non subsidi naik di Oktober, ketika harga minyak dunia naik. Selain di belanja subsidi energi yang membengkak di APBN, kebijakan ini juga ikut membuat defisit transaksi berjalan membengkak," ungkapnya kepada Bisnis, Minggu (9/12/2018).

Dia memaklumi, memang jika pemerintah menaikkan harga BBM, ada trade off ke inflasi dan ada biaya politiknya ke popularitas pemerintah.

Belanja subsidi per November 2018 mencapai 116,9% dari pagu sebesar Rp182,7 triliun dengan rincian subsidi energi Rp130,4 triliun setara 138% dari APBN, dengan subsidi BBM dan gas realisasinya bertambah menjadi 179,8% dari APBN sebesar Rp84,3 triliun dan subsidi listrik Rp46,1 triliun atau 96,8% dari APBN.

Sementara itu, realisasi subsidi non energi sudah sebesar Rp52,3 triliun setara 84,7 triliun.

Selain itu, pembayaran bunga utang yang naik menurutnya salah satunya dipengaruhi oleh pelemahan rupiah, karena bunga utang luar negeri jika dikonversi ke rupiah akan naik ketika rupiah melemah.

Berdasarkan data Kemenkeu, belanja pembayaran utang sudah terrealisasi 105,2% sebesar Rp251,1 triliun. Sementara, belanja modal pertumbuhannya negatif 3,6% dan baru 62,9% dari alokasi APBN yakni sebesar Rp128,2 triliun.

"Tahun ini mestinya sudah aman karena sisi penerimaannya baik yang salah satunya karena kenaikan harga minyak dunia," ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apbn subsidi energi
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top