Properti Berbasis TOD Kian Diburu Pengembang

Pengembangan proyek sepanjang jalur kereta, baik commuter line, MRT, ataupun LRT akan semakin digemari pengembang properti pada tahun-tahun mendatang.
Maria Elena | 04 Desember 2018 17:15 WIB
Apartemen Gateway Park

Bisnis.com, JAKARTA - Pengembangan proyek sepanjang jalur kereta, baik commuter line, MRT, ataupun LRT akan semakin digemari pengembang properti pada tahun-tahun mendatang.

Pengamat Properti David Cornelis mengatakan properti terkait transit oriented development (TOD) akan menjadi tren di kota-kota besar yang berkembang dan mengusung kota cerdas agar terlepas dari kemacetan dan polusi.

"Properti berbasis TOD semakin dicari di tahun ini dan di tahun mendatang karena trennya sudah ke arah sana, pembangunan properti yang orientasinya adalah transit dari multimoda transportasi,seperti LRT dan MRT," kata David, belum lama ini.

Dia menilai properti di kawasan tersebut memiliki potensi untuk mengalami pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan dengan properti lainnya.

Hal ini dikarenakan ada potensi dari ceruk pasar yang pasti dan membutuhkan hunian, misalnya milenial, keluarga baru, masyarakat kelas menengah, dan rumah susun untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Dia memaparkan, berdasarkan data Badan Pusat Statisik (BPS), jumlah penduduk DKI Jakarta pada mencapai 10,37 juta jiwa pada 2017.

Jumlah penduduk tersebut masih bertambah setiap harinya dengan keberadaan warga kawasan sisi luar Jakarta, yaitu Bekasi, Bogor, Depok dan Tangerang, yang tinggal di kawasan luar tersebut, namun memiliki pekerjaan di Jakarta.

Sementara itu, kendaraan yang berada di Jakarta mencapai 18 juta unit. Dengan total panjang jalan di DKI Jakarta yang mencapai sekitar 7000 km, dampak langsung yang terjadi adalah terjadinya kemacetan yang terjadi hampir setiap hari.

Kerugian akibat kemacetan ini, diperkirakan mencapai Rp6 triliun setiap tahunnya. Oleh karena itu, pemerintah dengan langkah strategisnya membangun sistem transportasi massal yang diharapkan menjadi solusi jangka panjang atas problem kemacetan.

Oleh karena itu, lanjut David, pengembangan TOD ke depannya mengintensifkan rasio luas lantai, menambahkan ruang hijau, dan meningkatkan desain yang berorientasi pada transit dan pejalan kaki.

Peluang mengembangkan kawasan properti berbasis TOD, dibidik oleh salah satunya PT Adhi Commuter Properti yang merupakan anak usaha PT Adhi Karya (Persero) Tbk., tengah gencar mengembangkan beberapa proyek dengan konsep TOD yang berlokasi menyatu dengan stasiun LRT Jabodebek.

Salah satunya adalah LRT City - Urban Signature Ciracas, proyek kerja sama operasional dengan dengan Urban Jakarta Propertindo yang dikembangkan seluas 6,2 hektare di Ciracas, Jakarta Timur

Project Director LRT City Ciracas - Urban Signature Taufiq Hardiyansyah mengatakan proyek tersebut telah mendapatkan respon yang positif. Sejak diluncurkan, sampai saat ini sudah terjual 49% dan pihaknya optimis 2 tower tersebut akan terjual habis pada 2019.

Bahkan, dalam kurun waktu satu tahun, LRT City Ciracas telah mengalami kenaikan harga lebih dari 25%. Saat ini sudah ditawarkan dengan harga mulai dari Rp500 juta-an.

"Kami optimis proyek ini akan diserap baik oleh masyarakat. Dengan lokasi yang sangat strategis, hanya membutuhkan waktu singkat menuju pusat kota Jakarta dengan menggunakan LRT, tentu akan menjadi pilihan bagi kaum sub-urban yang berkerja di Jakarta,” jelas dia.

Selain itu, LRT City Jaticempaka – Gateway Park yang juga merupakan proyek kerja sama operasional dengan Urban Jakarta Propertindo, dengan menara pertama yang bertajuk Accordia juga mendapatkan respon positif dari pasar.

Accordia dengan ketinggian 16 lantai yang menampung 529 unit, sudah terjual 90% walaupun pada saat peluncuran pertama stasiun LRT belum terlihat

Adapun nilai penjualan pada menara pertama sebesar Rp245 miliar dengan harga awal unit dibanderol Rp390 juta per unit. Konsumen Gateway Park mayoritas berdomisili Bekasi dan Jakarta Timur dengan sebanyak 75% merupakan konsumen end user.

Direktur Utama PT Adhi Commuter Properti Amrozi Hamidi mengatakan ACP mengembangkan hunian berbasis TOD tentunya untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan hunian yang terintegrasi dengan sistem transportasi massal.

"Kami yakin ke depan hunian berbasis transportasi seperti ini akan menjadi pilihan masyarakat. Berkaca pada negara lain, hunian yang terintegrasi dengan sistem transportasi massal memberikan kemudahan mobilitas bagi penghuninya," jelas dia.

Pada 2019, Amrozi mengatakan ACP akan menghadirkan 4 hingga 6 proyek baru di lokasi yang tetap berdekatan dengan stasiun LRT, namun belum menyebutkan secara jelas di mana saja lokasi yang menjadi bidikan untuk proyek-proyek tersebut.

Tag : transit oriented development
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top