Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Penyebab Negosiasi RCEP Tak Kunjung Rampung

Negara-negara calon anggota Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) belum juga menyamakan visi dan keinginannya membuat kesepakatan hubungan kerja sama ekonomi tersebut masih belum rampung.
Fahmi Achmad
Fahmi Achmad - Bisnis.com 12 November 2018  |  09:55 WIB
Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita (ketiga kiri) dan para menteri ekonomi serta perdagangan negara-negara Asean lainnya berfoto bersama dalam Preparatory Asean Economic Ministers Meeting di Singapura, Senin (12/11). - Dok. Kemendag
Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita (ketiga kiri) dan para menteri ekonomi serta perdagangan negara-negara Asean lainnya berfoto bersama dalam Preparatory Asean Economic Ministers Meeting di Singapura, Senin (12/11). - Dok. Kemendag

Bisnis.com, SINGAPURA -- Negara-negara calon anggota Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) belum juga menyamakan visi dan keinginannya membuat kesepakatan hubungan kerja sama ekonomi tersebut masih belum rampung.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) merangkap Ketua Trade Negotiating Committee Regional Comprehensive Economic Partnership (TNC RCEP) Iman Pambagyo mengatakan negosiasi antarnegara mitra masih terus berlangsung.

Dia menuturkan sejumlah substansi dari poin-poin perundingan RCEP mulai mendekati kesepakatan final.

"Kalau ada Free Trade Agreement (FTA) antarmereka itu lebih baik, seperti hubungan China dan India yang belum punya FTA," ujar Iman, di sela-sela pertemuan Asean Summit di Singapura, Senin (12/11/2018).

Menurut dia, jika pun ada kesepakatan FTA antarnegara calon anggota, negara lain yang ingin masuk RCEP harusnya juga mendapatkan informasi lengkap agar tidak terkena tarif dagang yang tidak perlu.

"Misalnya, India ekspor benang ke China lalu Indonesia impor kain dari China. Jangan sampai produk kain itu sudah ada tarif yang disepakati India dan China. Jadi kalau mereka punya FTA, kita juga harus tahu poin-poinnya," lanjut Iman.

Selain ketiadaan kerangka FTA yang harusnya menjadi landasan, perubahan politik yang diiringi pergantian menteri di negara-negara Asean dan keenam mitranya membuat negosiasi sering tidak menghasilkan perkembangan signifikan. Contohnya, Malaysia yang masih mempersoalkan penyelesaian sengketa dalam kesepakatan Sanitary and Phytosanitary (PSP).

"Mereka tidak mau kalau ada sengketa itu dibawa ke arbitrase. Padahal, itu memang ada mekanisme tidak dibawa ke sana, kecuali kalau itu investasi," sebutnya.

Selain itu, ada pula delegasi yang enggan menyepakati poin pembahasan karena beralasan tidak membawa mandat.

"Ada juga seperti India yang susah dalam dua-tiga putaran perundingan terakhir," ungkap Iman.

Selain itu, delegasi Jepang juga belum satu pendapat mengenai pengenaan tarif pada produk pertanian dari China. Begjtu pula sebaliknya.

Sekadar catatan, negosiasi RCEP diinisiasi sejak November 2012 dan kerap dipandang sebagai tandingan pakta kerja sama Trans Pacific Partnership (TPP). Selain negara-negara Asean, enam negara mitra yang turut terlibat dalam RCEP adalah Australia, Selandia Baru, China, India, Jepang, dan Korea Selatan (Korsel).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rcep kerja sama perdagangan
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top