Menemukan Alternatif Pendanaan Properti yang Tepat

Menemukan Alternatif Pendanaan Properti yang Tepat
Anitana Widya Puspa | 23 September 2018 23:56 WIB
perumahan

Bisnis.com, JAKARTA - Pendanaan bagi proyek-proyek properti di Indonesia, utamanya masih mengandalkan cara-cara konvensional  seperti pembiayaan perbankan. Sementara instrumen pendanaan dari pasar modal seperti Dana Investasi Real Estate (DIRE) ataupun Reksa dana Penyertaan Terbatas sebetulnya bukan hal baru, akan tetapi jumlah pengembang yang memanfaatkannya belum banyak.

Pengamat properti Panangian Simanungkalit mengatakan alternatif pendanaan sah-sah saja dilakukan. Faktanya dari jumlah sekitar 3.500 pengembang yang ada  di Indonesia, hanya puluhan pengembang saja yang menjadi perusahaan terbuka dna terdaftar di bursa efek. Sehingga kata dia bisa dimaklumi bahwa memang hanya segelintir pengembang yang canggih soal pendanaan dan finansial.

Panangian menyebut, alternatif pembiayaan yang dilakukan memang bergantung pada kebutuhan masing-masing pengembang. Misalnya saja dari sisi pembiayaan bank lebih mudah dengan melakukan agunan, sedangkan di pasar modal, perlu menunjuk manajer investasi mengatur yang menempatkan investor untuk pendanaan. Lain lagi halnya dengan pengembang besar, yang telah IPO, lebih suka mengeluarkan obligasi karena suku bunganya lebih murah dari bank.

“Perusahaan pengembang di Indonesia belum terbiasa untuk menjadi besar. Jadi pendanaan di luar bank belum populer dan masih butuh waktu lebih lama bagi perusahaan pengembang dengan ragam pembiayaan agar lebih popular di masa depan,” katanya kepada Bisnis Minggu (23/9/2018).

Beberapa pengembang seperti PT Perdana Gapuraprima Tbk justru mencoba memanfaatkan pembiayaan melalui Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT). Emiten berkode saham GPRA ini memiliki target mengumpulkan pendanaan hingga Rp200 miliar. Perusahaan menilai RDPT lebih menarik fixed income sehingga yield yang diberikan bisa lebih bagus ketimbang para deposit bagi investor, yakni sekitar 11%--12% dengan jumlah minimum pendanaan yang dimiki per  investor yakni Rp5 miliar. Membandingkan dengan DIRE yang menurut GPRA belum terlalu likuid belum lagi karena faktor pajak dengan transfer kepemilikan.

Managing Director GPRA Arvin Iskandar mengatakan sedang mengajukan perizinan kepada OJK yang diperkirakan bisa dimulai pada Oktober ataupun November tahun ini. Menurutnya ada alternatif pendanaan yang perlu dieksplore diluar perbankan dan modal internal. Selama ini perusahaan mengandalkan 70% pembiayaan dari bank dan sisanya modal kas internal.

Alternatif pendanaan itu akan dilakukan untuk proyek BTC seluas 4 ha di Bekasi bagi pembangunan 2 menara yang direncankaan mulai kontsruksinya pada awal tahun depan. Proyek di Bekasi itu diluncurkan dengan menyasar segmen menengah di kisaran Rp300 juta untuk tipe studio.

Rinciannya, dari pendanaan yang diperoleh nantinya senilai Rp120 miliar untuk dua menara, sisanya membayar kembali ekspansi lahan yang sebelumnya dilakukan.

Perusahaan mencoba memanfaatkan pendanaan bagi proyek BTC sebagai underlying asset karena ideal, dengan fasilita ritel dan rumah sakit yang telah terbangun. Dengan demikian sekuritisasi aset tidak hanya tanah tapi dalam bentuk bangunan yang telah beroperasional.

Dastin M. Mudjiana Presiden Direktur Ayers Asia Asset Management mengatakan saat ini sekarang perbankan tengah mengetakan likuiditas dengan adanya pelemahan rupiah.  Menurutnya baik perusahan terbuka dan non terbuka bisa memanfaatkan RDPT, namun memang nama pengembang yang IPO akan lebih mudah ditawarkan dalam mengumpulkan pendanaan.

“Memang masih perlu edukasi, karena investor juga belum banyak yang mau meletakkan dananya di luar tabungan atau[un deposito.  Namun perlu diingat, deposito itu rate-nya nggak selamanya hanya jangka pendek. Nanti akalu turun suku bunganya,investasi yang lain sudah naik,”imbuhnya.

Sementara itu, Managing Director Ciputra Grup Harun Hajadi mengatakan DIREdan RDPT memiliki sifat yang berbeda. Kalo DIRE Dana Investasi Real Estat,  atau Real Estate Investment Trust hanya bisa dilalukan jika properti-nya sudah terbangun sehingga ada pendapatan yang lebih stabil  secara berkelanjutan.

Investasinya jenis ini hampir sama dengan bond yang menghasilkan yield. Sementara RDPT lebih mengaraha kepada investasi yangg dipercayakan kepada pengelola dana untuk diinvestasikan. Jika untuk pendanaan real estate, bisa saja rdpt diinvestasikan dari membeli tanah hingga pembangunannya, lebih seperti 'pemegang saham'.

“Tapi kami belum memanfaatkan itu sih, karena rdpt itu bagi investor pajak penghasilannya masih kurang efisien,”katanya.

Senada, PT Intland Development Tbk juga belum memilki alternatif pendanaan untuk RDPT ataupun DIRE.

Direktur Pengelolaan Modan dan Investasi DILD, Archied Noto Pradono mengatakan RDPT jumlah investornya terbatas dan jangka waktunya pendek dan DIRE belum menarik karena saat ini investor base terbatas dan nilai yield nya belum menemukan kesepakatan antara investor dan perusahaan.

“Tidak bisa milih dua-duanya karena belum cocok,”ungkapnya.

Tag : properti
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top