Impor Plastik pada Agustus 2018 Mulai Mengendur, Ini Datanya

Impor plastik dan barang dari plastik pada Agustus 2018 mulai berkurang dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kendati demikian, sepanjang 8 bulan pertama tahun ini, nilainya masih lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Wibi P. Pratama | 17 September 2018 23:00 WIB
Peserta mengoperasikan mesin cetak kemasan seusai pembukaan pameran INDOPLAS, INDOPACK, dan INDOPRINT 2016 di Jakarta - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA — Impor plastik dan barang dari plastik pada Agustus 2018 mulai berkurang dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kendati demikian, sepanjang 8 bulan pertama tahun ini, nilainya masih lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Pada bulan lalu, impor plastik dan barang dari plastik mencapai US$808,7 juta atau turun 11,2% secara bulanan. Adapun, selama Januari-Agustus 2018, total impor produk ini mencapai US$5,9 miliar atau meningkat 18,7% secara tahunan.

Penurunan impor pada bulan lalu sejalan dengan proyeksi Fajar Budiyono, Sekjen Asosiasi Inaplas. Menurutnya, selama musim panas yang berlangsung sekitar Mei-Juli, harga bahan baku di luar negeri cenderung turun sehingga produsen plastik hilir domestik memilih untuk mengimpor.

Bahan baku yang banyak diimpor tersebut antara lain polipropilena (PP), polietilena (PE), dan polyethylene terephtalate (PET). Fajar menuturkan, impor bahan baku tersebut akan mulai menurun pada September atau saat cuaca di negara-negara bagian utara mulai dingin.

Ketika cuaca dingin, pabrikan di Eropa lebih banyak mengonsumsi energi. Dengan demikian, harga bahan baku plastik juga ikut terkerek. Hal ini membuat produsen dalam negeri mengurangi impor dan memakai bahan baku lokal.

Adapun, tingginya impor plastik dan produk plastik menjadi catatan tersendiri karena berkontribusi sebesar 5,71% terhadap impor nonmigas sepanjang 8 bulan pertama tahun ini.

“Kalau tidak dijaga, hati-hati impor (plastik) bakal naik,” jelas Fajar, Senin (17/9).

Dia mengatakan impor plastik dan barang dari plastik yang besar tersebut disebabkan permintaan dalam negeri yang tinggi serta didorong oleh produsen luar negeri yang melakukan praktik dumping.

Oleh karena itu, Fajar berharap pemerintah bisa menerapkan kebijakan pengamanan untuk produk hilir yang telah mampu diproduksi industri dalam negeri. “Ada 115 HS number yang diimpor, kebanyakan berupa terpal dan plastik untuk kemasan,” paparnya.

Inaplas, lanjutnya, telah berusaha mengajukan perlindungan berupa safeguard untuk produk terpal dan bea masuk antidumping untuk produk PET. Sejauh ini, permintaan ini masih diproses pemerintah.

Menurutnya, tindakan pengamanan harus didahulukan untuk produk hilir dan baru menyusul untuk produk hulu. “Jangan sampai kebalik hulu dulu baru hilir, nanti industri hilir bisa terancam,” ujarnya.

Pada tahun ini, pihaknya memproyeksikan pertumbuhan industri plastik sebesar 5,4%.

Tag : plastik
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top