Ini Penjelasan Kenapa Ekspor Mebel Sulit Tumbuh Dua Digit

Pertumbuhan ekspor mebel pada semester II/2018 diharapkan bisa berada di angka 9% secara tahunan
Annisa Sulistyo Rini | 26 Agustus 2018 20:27 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan kursi rotan untuk acara pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution, di sentra industri rotan Tangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (2/11). - ANTARA/Maulana Surya

Bisnis.com, JAKARTA--Pertumbuhan ekspor mebel pada semester II/2018 diharapkan bisa berada di angka 9% secara tahunan.

Abdul Sobur, Sekretaris Jenderal Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki), mengatakan pada periode April--Juni 2018, ekspor mebel naik dari US$832 juta menjadi US$930 juta atau tumbuh 10,53%.

Peningkatan ini didorong oleh permintaan baru setelah mengikuti pameran di beberapa negara, seperti Jerman, Prancis, dan China pada kuartal I/2018.

"Nanti ada pameran lagi, siklusnya setahun 2 kali. Harapannya, di semester II nanti pertumbuhan ekspor stabil di 9%," katanya akhir pekan lalu.

Sobur menuturkan pihaknya ingin agar ekspor mebel bisa mencapai angka pada 2016 senilai US$1,95 miliar. Saat ini, angka tersebut cukup sulit diraih karena 4--5 perusahaan mebel pindah ke Vietnam dan menyebabkan angka ekspor turun senilai US$300 juta.

Menurut Sobur, salah satu upaya yang bisa mendorong ekspor mebel hasil produksi dalam negeri adalah dengan menghilangkan kewajiban Sistem Verifikasi dan Legalitas (SVLK) di industri hilir.

Kebijakan ini dinilai menghambat ekspor industri ini tumbuh tinggi karena biaya pengurusannya dinilai mahal bagi para pengusaha, terutama skala kecil dan menengah.

Industri mebel, lanjutnya, merupakan salah satu sektor penyumbang ekspor yang cukup besar dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 85%--90%. "Kalau ekspor mebel bisa tumbuh, pada akhirnya akan membantu mengurangi defisit perdagangan. Tinggal komitmen pemerintah untuk mendukung," ujarnya.

Selain evaluasi kewajiban SVLK untuk industri mebel, Sobur juga berharap pemerintah bisa memberikan insentif berupa bantuan untuk restrukturisasi mesin produksi. Pembaruan mesin-mesin ini dapat meningkatkan produktivitas industri mebel.

"Insentif ini bisa merangsang pengusaha supaya mau berinvestasi di industri mebel," katanya.

Adapun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor kayu dan barang dari kayu pada Januari--Juni 2018 tercatat senilai US$2,15 miliar, tumbuh 14,19% secara tahunan. Sebesar 80% dari produk industri mebel dalam negeri diekspor ke pasar mancanegara.

Tag : industri mebel dan kerajinan
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top